Berita Kesehatan Orangtua Terpopuler

Gejala yang Menandakan Terkena Syok Neurogenik

Syok neurogenik adalah kondisi kritis karena sirkulasi di dalam tubuh tidak teratur yang dapat disebabkan karena adanya cedera pada tulang belakang. Kondisi ini bisa mengakibatkan tekanan darah Anda turun drastis secara tiba-tiba, sehingga tubuh mengalami syok. Oleh karena itu, jangan sepelekan hasil pemeriksaan yang menunjukkan tekanan darah Anda rendah, terlebih jika Anda menderita cedera pada tulang belakang. Pasalnya, kondisi tersebut bisa membuat Anda mengalami syok neurogenik.

Jika Anda merasa mengalami syok neurogenik, segera minta rekan atau keluarga terdekat untuk mengantar Anda ke dokter. Jika tidak segera ditangani, syok neurogenik ini bisa menyebabkan kerusakan permanen terhadap organ-organ vital di dalam tubuh. Bahkan, dalam pada kasus yang parah bisa menyebabkan kematian.

Gejala-gejala syok neurogenik

Pertanda pertama dari syok neurogenik adalah penurunan tekanan darah yang drastis dan tiba-tiba. Anda tentu tidak mungkin melakukan pemeriksaan tekanan darah setiap waktu, oleh karena itu Anda perlu mewaspadai gejala-gejala berikut sebagai tanda syok neurogenik:

  • Pusing
  • Mual dan muntah
  • Berkeringat
  • Pandangan kosong
  • Merasa gelisah
  • Kulit pucat
  • Pingsan

Pada kondisi parah dari syok neurogenik, penderitanya bisa mengalami gejala-gejala seperti berikut:

  • Kesulitan bernapas
  • Nyeri dada
  • Detak jantung lambat
  • Bibir dan jari menjadi biru
  • Tubuh lemah
  • Hipotermia atau penurunan suhu tubuh yang ekstrem

Apakah syok neurogenik bisa disembuhkan?

Untuk menyembuhkan syok neurogenik tidak mudah. Kondisi ini bahkan termasuk jenis syok yang paling sulit diobati. Jika Anda menderita syok neurogenik, dokter akan berusaha menstabilkan tekanan darah dan mencegah cedera atau kerusakan tambahan yang diakibatkan oleh syok ini. Selanjutnya dokter akan memberikan cairan intravena untuk mengatur tekanan darah.

Jika tekanan darah Anda terlalu rendah, dokter akan menyuntikkan vasopressor, yaitu obat yang membantu menyempitkan pembuluh darah dan meningkatkan tekanan darah. Beberapa contoh obat vasapressor adalah norepinefrin, epinefrin, dopamin, dan vasopressin. Namun, jika detak jantung Anda melambat, dokter akan meresepkan atropin. Obat ini berguna untuk membantu menjaga detak jantung normal. Selain itu, jangan lupa untuk selalu patuhi anjuran dan larangan dari dokter.

Mengintip Seperti Apa dan Bagaimana Suntik Varises Dilakukan

Tentu Anda pernah mendengar tentang varises, kan? Varises adalah kondisi pembengkakan yang terjadi pada pembuluh darah vena karena adanya gangguan pada fungsi katup pembuluh darah tersebut. Beberapa orang mengatasi kondisi varises ini dengan memilih prosedur suntik varises.

Skleroterapi adalah istilah medis dari prosedur suntik varises. Namun, sebenarnya tidak semua kasus varises dapat diatasi dengan prosedur ini, terutama untuk varises yang besar. Prosedur suntik varises ini umumnya akan secara efektif mengatasi varises pada pembuluh darah vena kecil.

Bagaimana prosedur suntik varises?

Prosedur suntik varises dilakukan dengan secara langsung menyuntikkan cairan zat kimia pada pembuluh darah vena yang bermasalah. Cairan yang digunakan tersebut berperan untuk merusak dinding dalam pada pembuluh darah vena.

Ketika dinding pembuluh darah vena tersebut rusak, maka akan terbentuk gumpalan darah beku. Kondisi ini akan mendorong darah untuk mencari pembuluh darah vena lain agar tetap dapat tersalurkan. Dengan begitu, pembuluh darah vena yang terkena varises akan secara otomatis dapat hilang.

Proses penyuntikan ini biasanya terjadi selama 15-30 menit bergantung pada jumlah lokasi pembuluh darah yang harus disuntikkan dan juga reaksi yang mungkin dapat timbul pada pasien ketika cairan zat kimia tersebut disuntikkan.

Untuk siapa sajakah suntik varises dapat diberikan?

Pada dasarnya, semua orang diperbolehkan untuk melakukan prosedur suntik varises, terkecuali ibu hamil. Walaupun begitu, bagi pasien yang sebelumnya memiliki riwayat penggumpalan darah dalam tubuh, seperti pada bagian otak, lebih baik untuk berkonsultasi terlebih dulu kepada dokter.

Selain itu, jika Anda ingin melakukan prosedur suntik varises, pastikan bahwa Anda sedang tidak mengonsumsi jenis obat-obatan tertentu, seperti aspirin, ibuprofen, dan antiradang. Jenis obat-obatan tersebut dapat mengganggu proses pembekuan darah, sehingga dapat memengaruhi hasil dari prosedur suntik varises. Setidaknya, beri jeda waktu sekitar 3-4 hari sebelum melakukan prosedur ini.

Apakah terdapat efek samping dari prosedur suntik varises?

Hasil dari prosedur suntik varises langsung dapat terlihat sekitar 15-30 setelah prosedur dilakukan. Ada pun beberapa kemungkinan efek samping yang dapat timbul, yaitu rasa gatal pada daerah bekas suntikan yang dapat berlangsung hingga 2 hari lamanya. Kemerahan maupun bentol juga rawan muncul pada daerah bekas suntikan tersebut.

Bagaimana pun, prosedur ini tetap memerlukan konsultasi dengan dokter terlebih dahulu agar tidak menimbulkan gangguan kondisi kesehatan lain yang tidak diinginkan.

Kenali Gejala Stroke Ringan dengan Cara Berikut

Stroke ringan adalah kondisi ketika aliran darah ke otak, sumsum tulang belakang, atau retina mengalami interupsi sesaat. Gejalanya mirip dengan penyakit stroke, akan tetapi tidak merusak otak maupun menyebabkan kelumpuhan permanen seperti penderita stroke. Anda tidak boleh sepelekan gejala stroke ringan ini! Pasalnya, gejala stroke ringan yang tidak segera ditangani bisa mengakibatkan Anda benar-benar mengalami stroke di kemudian hari.

Apa saja gejala stroke ringan?

Transient Ischemic Attack (TIA) atau biasa disebut stroke ringan, merupakan kondisi gawat darurat. Sama seperti stroke pada umumnya, 70% pasien stroke mengaku tidak sadar bahwa dirinya pernah mengalami stroke ringan. Oleh karena itu, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, Anda perlu mengetahui gejala-gejala stroke ringan, seperti berikut:

  • Otot mati rasa atau terasa lemah di satu sisi tubuh
  • Sulit berbicara atau kalimat yang diucapkan sulit untuk dipahami
  • Mudah hilang keseimbangan dan merasa pusing
  • Penglihatan menjadi kabur
  • Merasa bingung atau linglung
  • Sakit kepala hebat tanpa sebab

Jika dilihat sangat mirip dengan gejala stroke pada umumnya. Oleh karena itu, jika Anda menemukan gejala-gejala di atas, segera minta bantuan orang lain untuk mengantar ke rumah sakit. Namun, jika Anda menemukan orang dengan tanda-tanda stroke, lakukan pemeriksaan F.A.S.T sebagai berikut:

  • Face (wajah): minta orang tersebut untuk tersenyum, apakah salah satu sisi wajahnya turun?
  • Arms (lengan): minta ia untuk mengangkat kedua tangan, apakah salah satu sisinya jatuh?
  • Speech (bicara): minta ia untuk mengulangi kalimat sederhana, apakah ia sulit mengatakannya?
  • Time (waktu): jika jawaban dari ketiga pertanyaan di atas adalah “ya”, maka segera hubungi ambulans atau bawa ia ke rumah sakit. Penanganan yang cepat sakit krusial bagi penderita stroke ringan.

Penderita stroke ringan berisiko mengalami pengulangan gejala, terutama dalam waktu 48 jam setelah serangan pertama. Setelah dinyatakan pulih, penderita stroke ringan biasanya akan diminta untuk memeriksakan kondisi kesehatannya secara berkala. Selain itu, sebaiknya lakukan pola hidup sehat serta hindari pemicu stroke ringan.

Waspadai Sindrom Polikistik Ovarium yang Hantui Wanita dengan Siklus Menstruasi yang Tidak Teratur

Apakah Anda pernah mendengar tentang sindrom polikistik ovarium? Sindrom ini dapat ditandai dengan gejala, seperti siklus menstruasi yang tidak teratur dan jumlah bulu yang lebat pada tubuh pada wanita.

Mengapa hal tersebut dapat terjadi? Dan apa saja dampak sindrom polikistik ovarium bagi kesehatan wanita?

Wanita sehat idealnya mempunyai sepasang ovarium yang memiliki fungsi untuk menjaga kesehatan sistem reproduksi. Setiap ovarium ini terletak di kedua sisi rahim. Ovarium juga ternyata memiliki fungsi lain, yakni sebagai organ endokrin yang menghasilkan hormon estrogen dan progesteron.

Kedua hormon tersebut, estrogen dan progesteron berfungsi untuk menjaga kesuburan wanita. Di samping itu, hormon tersebut juga berfungsi untuk menjaga perkembangan karakteristik organ seksual wanita, seperti payudara.

Jika sel telur yang matang tidak dibuahi oleh sperma dalam waktu 12-24 jam setelah dilepas oleh ovarium, maka akan terjadi menstruasi.

Tentang sindrom polikistik ovarium dan dampaknya terhadap kesehatan wanita

Pada pasien sindrom polikistik ovarium, akan terbentuk banyak gelembung kecil cairan (folikel) pada ovarium. Gelembung-gelembung ini menyebabkan ovarium pada pasien sindrom polikistik ovarium gagal untuk melepaskan sel telur pada setiap siklus menstruasi.

Selain terganggunya siklus menstruasi, fungsi ovarium lainnya pun ikut terdampak, antara lain jumlah hormon jantan (androgen) yang tinggi. Tingginya hormon jantan pada wanita ini akan berakibat pada tumbuhnya bulu pada sebagian besar anggota tubuh, termasuk bulu wajah.

Wanita dengan sindrom polikistik ovarium akan mendapati jerawat yang cenderung sulit diatasi. Selain itu, ia juga akan mengalami kebotakan seperti yang terjadi pada pria.

Dampak jangka kesehatan yang memengaruhi kesehatan wanita akibat sindrom ini, antara lain mengalami kesulitan untuk hamil, tingginya peluang keguguran, risiko diabetes pada kehamilan, perdarahan yang terjadi secara terus menerus, hingga risiko kanker rahim.

Tidak hanya itu, sindrom polikistik ovarium juga berdampak pada kesehatan mental wanita, seperti risiko depresi, kecemasan, serta gangguan makan.

Jika Anda mengalami gejala seperti telat menstruasi, adanya pertumbuhan rambut di wajah dan bagian tubuh lain, sulit hamil walau sudah lebih dari satu tahun menikah, dan memiliki gejala diabetes, maka segera konsultasikan kondisi Anda dengan dokter.

Ini 5 Tahap Perjalanan Sindrom Parkinson

Sindrom Parkinson adalah penyakit progresif yang menyerang sistem saraf. Kondisi ini umumnya disebabkan karena kurangnya zat pada otak, yaitu dopamine. Penderitanya dapat mengalami gangguan dalam pergerakan seperti sering terjadi tremor, tubuh kaku, hingga gangguan saat berbicara. Pada Sebagian besar kasus, sindrom Parkinson mulai disadari pada usia di atas 60 tahun. Akan tetapi, pada beberapa orang, kondisi ini bisa terjadi lebih dini.

Tahapan sindrom Parkinson

Sindrom Parkinson dapat terbagi dalam 5 tahap. Pada setiap tahap ini ditandai dengan perubahan gejala yang terjadi pada penderitanya. Berikut penjelasannya:

Tahap 1

Tahap ini merupakan tahap awal dimana penderita sindrom Parkinson hanya dapat mengalami gejala ringan. Sindrom Parkinson yang dialami berupa gangguan pada satu tubuh. Jika terjadi pada area wajah juga, bisa menyerupai gejala penyakit stroke. Pada tahap awal ini, sindrom Parkinson tidak menyebabkan gangguan aktivitas penderitanya. Namun, dengan pengobatan yang tepat, gejala dapat berkurang hingga hilang.

Tahap 2

Tahap ini bisa terjadi dalam rentang beberapa bulan atau tahun kemudian. Seseorang yang menderita sindrom Parkinson, pada tahap ini akan menjadi lebih lambat dalam melakukan suatu aktivitas. Akan tetapi, salah satu sisi juga akan menjadi lebih ringan.

Tahap 3

Pada tahap ke-3 ini merupakan titik balik perjalanan sindrom Parkinson yang dialami. Sebagian besar gejala menyerupai dengan tahap 2, namun penderitanya mulai mengalami kehilangan keseimbangan dan penurunan reflex sehingga rentan terjatuh. Hambatan dalam melakukan aktivitas mulai terasa nyata pada tahap ini. Meskipun masih dapat diselesaikan, untuk mengurangi keparahan gejala di tahap ini biasanya dilakukan dengan kombinasi obat dan terapi okupasi.

Tahap 4

Penderita sindrom Parkinson pada tahap keempat ini akan membutuhkan bantuan orang lain dan sebaiknya tidak ditinggalkan sendiri. Penderita sindrom ini tidak bisa beraktivitas secara mandiri.

Tahap 5

Pada tahap terakhir, penderitanya akan mengalami kekakuan di area kaki hingga tidak dapat berjalan seperti biasa dan tidak bisa berdiri. Penderitanya akan membutuhkan kursi roda dan pendamping sepanjang waktu untuk mencegah terjatuh.

Waspadai Sindrom Guillain-Barre dan Gejala yang Mungkin Muncul

Rasa kesemutan tentu pernah dialami banyak orang. Namun, jika kondisi ini terjadi dalam intensitas yang cukup sering, sebaiknya Anda perlu waspada. Terlebih, jika kesemutan tersebut juga diikuti dengan kondisi lain, seperti sulit bernapas ketika berbaring. Kedua kondisi ini dapat menjadi gejala awal dari sindrom Guillain-Barre.

Sindrom Guillain-Barre atau yang disingkat dengan GBS adalah kumpulan dari gejala yang menyerang sistem saraf, di antaranya saraf tepi, saraf tulang belakang, dan saraf otak.

Pada dasarnya, sindrom ini dapat menyerang siapa saja. Namun, mayoritas pasien yang menderita sindrom Guillain-Barre meliputi kelompok usia 15-35 tahun dan juga 54-74 tahun.

Sering kesemutan dan mengalami kesulitan bernapas hanya dua contoh dari beberapa kemungkinan gejala lain yang dapat terjadi, seperti:

  • Kaki terasa lemas dan merasakan sensasi ini bahkan hingga tubuh bagian atas dalam kurun waktu yang cukup singkat, yaitu kurang dari 4 minggu saja.
  • Merasakan sensasi seperti tertusuk-tusuk jarum pada bagian jari-jari tangan dan kaki, pergelangan tangan, maupun kaki.
  • Mengalami kesulitan dalam menggerakkan bagian wajah tertentu, seperti ketika ingin berbicara, mengunyah, dan menelan.
  • Kehilangan keseimbangan ketika berjalan. Dalam kasus tertentu, bahkan seseorang tidak dapat berjalan atau menaiki tangga sama sekali.
  • Detak jantung berdebar lebih cepat.
  • Mengalami kesulitan dalam mengontrol dan menahan ketika ingin buang air besar atau kecil.

Jika Anda mengalami sebagian besar kondisi seperti yang disebutkan, maka sudah seharusnya Anda berkonsultasi pada dokter. Diagnosis yang dilakukan lebih dini, dapat berpengaruh terhadap proses pemulihan yang lebih cepat.

Bagaimana sindrom Guillain-Barre diobati?

Nyatanya, GBS sangat mungkin dapat diobati. Walaupun begitu, dalam beberapa kasus tertentu, penderita GBS diminta untuk menjalani perawatan di rumah sakit, karena khawatir terjadi komplikasi lain yang membahayakan nyawa. Pasien butuh untuk dimonitor setiap saat secara intensif agar kondisi terkini detak jantung, infeksi, atau kemungkinan lain seperti pembekuan darah, penurunan maupun peningkatan tekanan darah, dapat diketahui.

Ada pun perawatan yang umumnya dijalani:

  • Plasmapheresis, yaitu proses pengambilan darah yang kemudian akan memisahkan bagian plasma dengan selnya. Sel-sel tersebut akan dimasukkan kembali ke dalam tubuh, sehingga plasma dapat diproduksi dalam jumlah yang lebih banyak.
  • Terapi imunoglobulin, yaitu proses perawatan dengan intravena. Imunoglobulin itu sendiri mengandung antibodi sehat dari pendonor darah yang ditransfusikan lewat pembuluh darah.

Ketika Polip Tumbuh di Pulpa Gigi

Pulpa gigi berisi saraf dan pembuluh darah, gigi yang mati biasanya sudah tidak menimbulkan keluhan rasa sakit, tetapi bukan berarti tidak ada masalah yang bisa menimpa gigi tersebut. Polip pulpa adalah masalah yang sering ditemukan pada gigi yang pulpanya sudah mati atau gigi mati. Pulpa merupakan bagian terpenting dari gigi, letaknya ada di dalam gigi di bawah lapisan email gigi dan dentin. Pada pulpa gigi, pertumbuhan jaringan (benjolan) bersifat menetap atau tidak dapat kembali mengecil meskipun faktor penyebab peradangan telah teratasi.

Kondisi ini dapat dicegah dengan kebiasaan menjaga kebersihan mulut dan gigi seperti rutin menyikat gigi dan flossing. Ditambah dengan bantuan sistem imunitas tubuh, penyakit mulut dan gigi umumnya dapat dicegah. Namun, tanpa kebiasan menjaga kebersihan gigi dan mulut yang tepat, bakteri-bakteri bisa saja tetap berkembang di mulut dan menyebabkan infeksi pada gigi serta gusi.

Gigi yang berlubang, infeksi, gusi bengkak dan masalah-masalah gigi lainnya harus mendapatkan perawatan. Gigi berlubang yang tidak diatasi dalam jangka waktu yang lama bisa menyebabkan gigi mati, artinya saraf gigi sudah mati dan pembuluh darah sudah tidak dapat menyuplai darah ke gigi tersebut. Lupang yang tetap tidak terawat sampai pulpa mati bisa menjadi pintu masuk bakteri ke pulpa gigi. Kemudian bakteri akan menyebabkan peradangan kronis sehingga sel-sel pada pulpa terus bertambah. Sehingga dalam jangka waktu lama, muncul polip pulpa.

Gejala adanya polip pulpa adalah munculnya benjolan kecil lunak berwarna merah atau putih keruh pada lubang di gigi mati. Benjolan tersebut memang tidak menyebabkan rasa sakit, tetapi mengganggu kenyamanan saat gigi digunakan untuk menggigit atau mengunyah makanan. Benjolan polip pulpa juga mudah berdarah bisa tersentuh.

Polip pulpa yang didiamkan bisa menyebabkan gusi bengkak dan gigi tanggal. Oleh karena itu, sebaiknya segera periksakan gigi ke dokter jika merasa ada polip pulpa yang tumbuh. Tindakan yang bisa dilakukan untuk mengatasi polip pulpa adalah dengan pemotongan polip dan pengambilan jaringan pulpa. Setelah itu, akan dilakukan perawatan saluran akar gigi dan penambalan lubang. Jika kerusakan pada gigi sudah terlalu parah, maka pilihannya dengan mencabut gigi mati tersebut.

Polip Usus Bisa Menjadi Pertanda Kanker Usus Besar

Polip usus bisa menyebabkan buang air besar disertai darah yang keluar dari saluran pencernaan. Benjolan pada usus besar ini biasanya tidak menunjukkan gejala apapun sehingga jika Andan buar air bisar dan berdarah, maka hal tersebut dapat dicurigai Anda memiliki gangguan polip usus. Beberapa jenis polip usus tidak berbahaya namun jika polip usus tidak kunjung ditangani dengan baik, maka akan berkembang menjadi kanker usus besar.

Potensi kanker dapat meningkat seiring dengan pertumbuhan polip usus. Jika polip semakin membesar makan kemungkinan terjadinya kanker usus pun besar. Supaya polip usus tidak berkembang dan menjadi kanker usus, sebaiknya Anda memperhatikan gejala berikut ini.

Gejala polip usus

Perlu Anda tahu bahwa polip usus merupakan suatu kondisi dimana munculnya gumpalan sel berbentuk seperti benjolan kecil di bagian usus besar. Untuk mengetahui apakah Anda terkena polip usus atau tidak, Anda harus memeriksakan diri ke dokter. Gejala polip usus yang bisa Anda kenal antara lain:

  • Perubahan warna tinja

Warna tinja akan bertambah gelap atau kemerahan karena tinja yang dikeluarkan disertai darah.

  • Perubahan kebiasaan buang air besar

Penderita polip usus biasanya akan mengalami sembelit atau diare selama lebih dari satu minggu. Hal ini dapat menjadi tanda bahwa orang tersebut memiliki polip usus berukuran besar.

  • Terasa nyeri pada perut

Polip usus yang berukuran besar dapat menimbulkan rasa sakit perut karena kram perut.

  • Anemia defisiensi zat besi

Pendarahan yang muncul saat buang air besar karena polip usus akan membuat tubuh menjadi kehilangan zat besi.

Faktor penyebab polip usus

Penyebab dari polip usus belum diketahui secara pasti. Namun, ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya polip usus seperti:

  • Berusia diatas 50 tahun
  • Penderita diabetes tipe 2
  • Merokok dan mengonsumsi minuman beralkohol
  • Memiliki gangguan pencernaan seperti radang usus besar
  • Faktor keturunan

Risiko polip usus semakin besar jika keluarga Anda memiliki riwayat polip usus atau kanker usus. Apabila Anda mencurigai adanya gejala polip usus ataupun risiko polip usus pada diri Anda, sebaiknya segera periksakan diri Anda ke dokter. Hal ini dapat meminimalisir terjadinya kanker usus besar.