Apa Itu Asfiksia Neonatorum?

Apa Itu Asfiksia Neonatorum?

Asfiksia neonatorum, atau dikenal juga dengan nama asfiksia pada bayi baru lahir, merupakan sebuah kondisi di mana bayi tidak mendapatkan cukup oksigen sebelum, pada saat, dan setelah persalinan dan dilahirkan. Dalam kasus yang langka, kondisi ini dapat menyebabkan komplikasi yang serius, dan bahkan dapat mengancam nyawa. Perawatan segera sangat diperlukan guna memastikan bahwa bayi mendapatkan cukup oksigen. Artikel ini akan membahas hal-hal yang perlu Anda ketahui seputar asfiksia neonatorum. 

Nama lain dari asfiksia neonatorum adalah asfiksia perinatal dan asfiksia perinatal. Asfiksia neonatorum terjadi ketika bayi tidak mendapatkan cukup asupan oksigen saat dilahirkan, dan berpotensi menyebabkan kesulitan bernapas. Kondisi ini dapat terjadi sebelum, pada saat, dan setelah proses persalinan. Kurang pasokan oksigen ke dalam tubuh dapat menyebabkan level oksigen yang rendah atau penumpukan asam berlebih di dalam darah bayi. Efek ini dapat mengancam nyawa dan membutuhkan perawatan secepatnya.

Dalam kasus yang ringan atau sedang, bayi dapat pulih sepenuhnya. Namun, dalam kasus yang parah, asfiksia neonatorum dapat menyebabkan kerusakan permanen pada otak dan organ atau bahkan dapat menyebabkan kematian. Tingkat asfiksia neonatorum lebih rendah di negara-negara maju, dengan angka sekitar 2 dari 1000 kelahiran. Di daerah-daerah negara maju di mana akses perawatan neonatal sangat terbatas dan kurang, angka tersebut dapat meningkat 10 kali lipat. 

Berbagai faktor dapat menyebabkan asfiksia neonatorum. Faktor tersebut dapat berhubungan dengan ibu hamil atau janin yang sedang tumbuh dan berkembang di dalam rahim. Adapun beberapa faktor risiko tersebut adalah:

  • Prolaps tali pusar. Komplikasi persalinan ini terjadi ketika tali pusar meninggalkan serviks sebelum bayi. 
  • Tekanan pada tali pusar
  • Sindrom aspirasi mekonium. Sindrom ini terjadi ketika bayi menghirup campuran air ketuban dengan mekonium, tinja pertamanya. 
  • Lahir prematur. Jika seorang bayi lahir sebelum minggu ke 37, paru-paru mereka belum berkembang sepenuhnya, dan mereka dapat tidak mampu bernapas dengan benar. 
  • Emboli cairan ketuban. Meskipun jarang ditemui, komplikasi ini, di mana cairan ketuban masuk ke aliran darah ibu hamil dan menyebabkan reaksi alergi, merupakan jenis komplikasi yang sangat serius. 
  • Rahim pecah. Penelitian telah menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara pecahnya dinding otot rahi dengan asfiksia neonatorum. 
  • Plasenta terlepas dari rahim. Pemisahan ini dapat terjadi sebelum proses persalinan. 
  • Infeksi pada saat persalinan berlangsung
  • Persalinan yang sulit dan memakan waktu sangat lama
  • Tekanan darah rendah atau tinggi pada saat hamil
  • Anemia. Pada bayi yang menderita anemia, sel darah tidak membawa cukup oksigen.
  • Tidak mendapatkan cukup oksigen pada darah ibu hamil. Jumlah oksigen mungkin dalam kadar yang kurang sebelum atau pada saat proses persalinan berlangsung. 

Asfiksia neonatorum juga memiliki faktor risikonya sendiri, seperti Ibu hamil berusia antara 20 hingga 25 tahun, kelahiran jamak (misalnya melahirkan bayi kembar 2 atau tiga), tidak mengunjungi perawatan prenatal, berat badan bayi baru lahir yang rendah, posisi janin yang tidak normal pada saat persalinan berlangsung, preeclampsia atau eklampsia, serta riwayat asfiksia neonatorum pada persalinan sebelumnya. 

Bayi dengan asfiksia neonatorum ringan-hingga-sedang yang mendapatkan perawatan segera dapat pulih dengan sepenuhnya. Akan tetapi, dalam beberapa kasus, asfiksia neonatorum dapat bersifat mematikan. Pada bayi dengan asfiksia neonatorum, tingkat kematian adalah 30 persen atau lebih dalam beberapa hari pertama setelah persalinan. Asfiksia neonatorum juga dapat menyebabkan komplikasi jangka panjang dan dapat menyebabkan gangguan saraf ringan hingga parah, seperti kejang, cerebral palsy, atau penundaan perkembangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *