Category: Kehamilan

Mengetahui Penyebab Perut Buncit Setelah Melahirkan dan Cara Mengatasinya

Mengetahui Penyebab Perut Buncit Setelah Melahirkan dan Cara Mengatasinya

Pasca persalinan umumnya menyisakan beberapa masalah bagi wanita. Salah satunya adalah penambahan berat badan sehingga menyebabkan perut buncit setelah melahirkan. Umumnya kondisi ini adalah hal yang normal terjadi setelah persalinan. Namun bagi beberapa ibu, kondisi ini dapat membuat krisis percaya diri.

Perut buncit setelah melahirkan dapat diatasi dengan beberapa cara. Namun, sebelumnya Anda juga perlu mengetahui penyebab dari kondisi ini.

Penyebab Perut Buncit Setelah Melahirkan

Pada masa kehamilan, rahim menjadi tempat tinggal sementara untuk janin sehingga rahim ikut meregang. Setelah proses persalinan, peregangan pada rahim inilah yang membuat perut Anda menjadi besar dan terlihat buncit.

Dibandingkan pada masa kehamilan, setelah persalinan berat badan ibu sudah berkurang sekitar 3 hingga 6 kg. Jumlah ini adalah total dari berat bayi, plasenta, darah, dan air ketuban. Perut buncit setelah melahirkan akan menyusut dengan sendirinya dan butuh waktu sekitar 6-8 minggu. Bagian tubuh yang mengalami pembengkakan juga akan menyusut karena mengeluarkan cairan ekstra melalui keringat, urine, dan sekresi vagina.

Cara Mengecilkan Perut yang Buncit Setelah Melahirkan

Banyak cara yang dapat dilakukan ibu setelah melahirkan untuk mengembalikan ukuran perut seperti sebelum hamil. Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengecilkan perut pasca melahirkan adalah sebagai berikut:

  1. Menyusui

Selain memenuhi asupan gizi bayi, menyusui juga dapat membantu mengecilkan perut buncit setelah melahirkan. Menyusui dapat membantu mengeluarkan hingga 5000 kalori dalam sehari. Aktivitas ini mendorong pelepasan hormon oksitosin yang merangsang kontraksi rahim dan menyusutkan uterus agar kembali seperti semula. 

  1. Olahraga ringan

Olahraga mempunyai banyak manfaat bagi tubuh, salah satunya adalah membantu mengecilkan perut buncit setelah melahirkan. Beberapa jenis olahraga yang dapat membantu untuk mengencangkan perut adalah:

  • Forearm plank

Anda dapat mengatur tubuh ke posisi plank. Pastikan bagian bawah lengan menempel ke lantai dan kencangkan bagian bokong. Tahan posisi tersebut selama 20 menit dan Anda dapat menambah atau mengurangkan durasinya sesuai dengan kekuatan tubuh Anda.

  • Reverse crunch

Posisikan badan berbaring telentang dengan lutut ditekuk serta paha tegak lurus ke lantai. Dorong lutut ke dada dengan menggunakan otot perut dan tahan posisi ini selama 2 menit. Anda dapat mengulangi aktivitas ini sebanyak 10 kali sehari. 

  • Scissor kicks

Berbaring ke lantai dengan posisi kaki lurus dan kemudian angkat kedua kaki seperti melakukan gerakan menggunting. Anda dapat menurunkan dan mengangkat kaki secara bergantian serta ulangi sebanyak 15 hingga 20 kali.

Sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu kepada dokter sebelum Anda memilih jenis olahraga, terlebih jika Anda menjalani proses persalinan secara caesar. Dokter akan memastikan kondisi Anda terlebih dahulu sebelum melakukan latihan olahraga ringan.

  1. Mengatur pola makan

Untuk mengembalikan ukuran perut seperti sebelum hamil, Anda dapat mengatur pola makan dan menghindari makanan yang dapat memicu kenaikan berat badan. Beberapa makanan sehat yang dapat Anda konsumsi pasca melahirkan adalah:

  • Sayur dan buah
  • Oatmeal
  • Sereal dengan serat yang tinggi
  • Yogurt rendah lemak

Selain itu, Anda dapat mengatur porsi makan lebih sedikit namun dengan frekuensi yang lebih sering yaitu 3 hingga 4 kali sehari.

  1. Banyak konsumsi air putih

Selain membantu menjaga keseimbangan cairan di dalam tubuh, banyak mengkonsumsi air putih dapat membantu proses pembakaran lemak di sekitar perut. 

Minum air putih juga dapat membantu proses pencernaan bekerja lebih baik dan maksimal sehingga membantu mengecilkan perut buncit setelah melahirkan.

  1. Menghindari kebiasaan tidur setelah makan

Aktivitas tidur setelah makan dapat membuat perut menjadi buncit dan menyebabkan beberapa masalah kesehatan bagi tubuh. Hal ini dikarenakan tubuh akan menunda untuk mencerna makanan disaat kita tidur.

Anda dapat menghindari kebiasaan ini untuk menjaga kesehatan dan tidak membuat perut semakin buncit setelah melahirkan.

  1. Menggunakan korset

Melatih perut dengan menggunakan korset diyakini dapat mendorong perut buncit untuk masuk ke dalam. Jika Anda sebelumnya melahirkan dengan proses caesar, pastikan terlebih dahulu bahwa luka bekas sayatan sudah benar-benar sembuh untuk menghindari luka terbuka kembali.

Masing-masing orang membutuhkan waktu yang berbeda untuk mengembalikan ukuran dan bentuk perut seperti sebelum hamil. Beberapa faktor lain seperti genetik dan keaktifan Anda untuk bergerak juga mempunyai pengaruh pada waktu serta tingkat untuk pengencangan perut. Anda dapat menerapkan cara mengecilkan perut buncit setelah melahirkan secara konsisten untuk mendapatkan hasil yang diinginkan.

Kondisi Payudara Bisa Jadi Masalah Ibu Menyusui

Kondisi Payudara Bisa Jadi Masalah Ibu Menyusui

Menyusui adalah sebuah aktivitas yang penting bagi kehidupan seorang manusia. Di mana ASI merupakan nutrisi atau asupan terbaik bagi bayi baru lahir. Namun, dalam praktiknya, banyak sekali masalah ibu menyusui yang ditemui di lapangan, di mana sebagian besar terjadi karena kondisi payudara ibu itu sendiri.

Di bawah ini ada beberapa masalah ibu menyusui yang disebabkan atau timbul karena kondisi payudara tersebut. Langsung aja, berikut di antaranya:

  • Kondisi puting tenggelam

Payudara pada wanita sama seperti organ tubuh lain, yakni memiliki bentuk yang berbeda-beda. Selain di ukuran, perbedaan payudara biasanya terletak pada bentuk atau ukuran puting. Kadang, yang menjadi masalah ibu menyusui adalah bentuk puting yang mendatar atau tenggelam. 

Walau bukan termasuk masalah yang berarti, tetapi bentuk puting ini bisa menghambat proses menyusui. Ini berkaitan erat dengan proses pelekatan atau kondisi di mana bayi mencucup susu dari payudara ibunya.

Masalah ini dapat diatasi dengan mudah melalui dua cara yang populer, seperti penarikan puting secara manual (menggunakan tangan); atau menggunakan spuit ukuran 10—20 ml, bergantung pada besar puting. 

Spuit dengan mudah dapat dipahami sebagai “suntikan”. Alat ini banyak dijual di apotek atau toko kesehatan lain. Anda bisa menarik puting agar mengacung dengan memanfaatkan gaya yang dihasilkan isapan dari spuit tersebut. Anda dapat melakukan penarikan sehari tiga kali pagi, siang,  dan malam, masing-masing 10 kali hingga kondisi puting Anda cukup ideal.

  • Puting lecet

Meski tidak berpengaruh langsung dalam proses menyusui, tetapi masalah ibu menyusui ini bisa memberi efek atau sensasi sakit kepada ibu. Lagi pula, puting yang lecet bisa membuat anak tidak nyaman saat menyusui. Masalah ibu menyusui ini bisa terjadi karena posisi dan pelekatan yang tidak baik atau juga dapat diakibatkan iritasi kulit yang sensitif dengan lidah bayi atau akibat jamur.

  • Kebiasaan buruk menangani payudara sehingga saluran ASI tersumbat

Masalah ibu menyusui selanjutnya yang berkaitan dengan kondisi payudara adalah adanya benjolan sehingga menyebabkan saluran ASI tersumbat. Penyumbatan ini bisa terjadi karena proses pengentalan ASI karena jarang dikeluarkan.

Namun, pada umumnya masalah ini timbul akibat kebiasaan buruk menangani payudara, seperti menopang payudara dengan posisi menggunting dan juga penggunaan bra yang terlalu menekan payudara.

  • Payudara bengkak

Payudara membengkak biasanya disertai dengan kondisi sensasi sakit di area payudara, puting terasa kencang, kulit mengilat walau tidak merah, terlihat pembuluh darah vena di permukaan payudara, hingga tidak keluarnya ASI. Hal ini disebabkan pengosongan payudara tidak berlangsung optimal, sering kali akibat bayi jarang menyusu dan produksi ASI melimpah. Bisa juga karena posisi dan pelekatan yang kurang tepat sehingga pengosongan payudara kurang optimal atau pembatasan pengosongan payudara.

Ibu bisa mengatasi masalah ini dengan melakukan kompres hangat pada payudara, kemudian pijat spiral secara lembut di area sekitar sumbatan menuju puting. Selain itu, ibu mungkin butuh obat penghilang nyeri (analgesik) yang diresepkan dokter.

  • Mastitis

Masalah ibu menyusui ini adalah kondisi di mana terjadinya peradangan pada payudara. Kondisi ini dapat ditandai dengan terdapatnya benjolan di payudara hingga menyebabkan kulit luarnya menjadi merah. Selain itu, mastitis juga menyebabkan ibu merasakan nyeri hebat dan panas ditambah ibu mengalami demam.

Ada dua jenis mastitis, yaitu non-infective mastitis dan infective mastitis (abses payudara). Yang kedua ini telah terinfeksi bakteri terutama Staphylococcus virulent. Umumnya didahului puting lecet, saluran air susu tersumbat, atau pembengkakan payudara (engorgement).

Sama seperti masalah payudara bengkak, upaya pertama yang bisa dilakukan oleh ibu yang menderita mastitis adalah mengompres payudaranya dengan air hangat dan melakukan pemijatan secara lembut di area sekitar sumbatan. Untuk mengurangi rasa sakit, ibu bisa diberi pengobatan dengan tablet analgetik. Sementara untuk mengatasi infeksi diberi pengobatan dengan antibiotik dan vitamin C dosis tinggi.

***

Kira-kira itulah beberapa masalah ibu menyusui yang terjadi akibat kondisi payudara. Menjadi penting bagi Anda, para perempuan, untuk menjaga kondisi dan kesehatan payudara, walaupun saat ini Anda tidak mengandung atau menyusui. Hal ini baik untuk dilakukan sebagai upaya persiapan sebelum nantinya terjadi masalah di waktu yang tidak tepat.

Bolehkah Menggunakan Cetirizine untuk Ibu Hamil? Baca Fakta Berikut!

Bolehkah Menggunakan Cetirizine untuk Ibu Hamil? Baca Fakta Berikut!

Ketika tubuh mengalami reaksi akibat alergi seperti gatal, kulit merah, bentol akibat terkena udara dingin, kita mungkin sudah terbiasa mengonsumsi obat alergi seperti cetirizine. Namun, bolehkah obat cetirizine untuk ibu hamil dan menyusui?

Secara umum, selama kehamilan trimester pertama, mengonsumsi obat tanpa adanya pengawasan dokter bisa meningkatkan risiko gangguan pertumbuhan janin dan cacat lahir. Jadi, perlu diperhatikan agar tidak terjadi kondisi yang tidak diinginkan selama masa kehamilan ini.

Bolehkan Menggunakan cetirizine untuk Ibu Hamil?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya untuk mengenal apa itu cetirizine ini. Obat cetirizine merupakan obat alergi antihistamin yang bekerja dengan cara memblokir produksi histamin yang menjadi penyebab seseorang mengalami gejala-gejala alergi seperti hidung mampet, mata berair, gatal-gatal, pilek, hingga bersin.

cetirizine ini juga bisa mengatasi muntah akibat morning sickness pada ibu hamil dan bisa meredakan nyeri payudara yang dialami oleh ibu menyusui. Namun, amankah cetirizine untuk ibu hamil dan menyusui?

Sebenarnya, cetirizine bisa bisa saja dikonsumsi oleh ibu hamil untuk mengatasi berbagai masalah kehamilan. Namun, ada jenis obat yang lebih direkomendasikan sebelum menggunakan cetirizine ini.

Obat tersebut adalah obat antihistamin jenis chlorpheniramine dan tripelennamine. Kedua obat ini lebih direkomendasikan untuk ibu hamil. Tapi, jika sudah lewat dari trimester pertama dan kedua obat tersebut tidak menunjukkan adanya perbaikan gejala, maka bisa diberikan obat cetirizine.

Ada juga penelitian yang menunjukkan tidak adanya cacat lahir yang terlalu berarti jika cetirizine diberikan pada ibu hamil di trimester pertama. Ada pula penelitian yang menyebut tidak ada risiko cacat lahir pada bayi ketika ibu hamil mengonsumsi obat cetirizine sebelum usia kehamilan memasuki lima minggu dan usia sembilan minggu.

Tentu saja obat cetirizine ini harus dikonsumsi dengan resep dokter dan tidak boleh sembarangan karena bagaimanapun akan membahayakan ibu hamil dan menyusui.

Dosis yang dikonsumsi oleh ibu hamil harus disesuaikan dan hanya dalam dosis kecil saja. Serta tidak disarankan dikonsumsi terus menerus karena bisa membuat bayi mengantuk. 

Begitu pula dengan ibu menyusui. Dosis cetirizine sebaiknya tidak tinggi karena akan membuat bayi menjadi rewel dan menangis terus tanpa sebab setelah minum ASI. Obat cetirizine dalam dosis tinggi juga bisa menurunkan hormon prolaktin yang mengatur produksi ASI, sehingga ASI yang diproduksi akan lebih sedikit. Oleh karena itu, obat cetirizine untuk ibu menyusui sebaiknya diberikan dalam bentuk obat tetes.

Aturan Pakai cetirizine untuk Ibu Hamil dan Menyusui

Setiap obat apapun seharusnya dikonsumsi sesuai dengan petunjuk pemakaian, untuk menghindari efek sampingnya. Begitu pula aturan pakai obat cetirizine untuk ibu hamil dan menyusui. 

Menurut aturan pakainya, obat cetirizine boleh dikonsumsi 10 mg setiap konsumsinya untuk tablet. Obat cetirizine juga hanya dikonsumsi sekali sehari saja setelah makan di malam hari. Namun, khusus untuk ibu hamil dan menyusui sebaiknya dikonsultasikan terlebih dahulu pada dokter kandungan Anda agar mendapat dosis yang lebih pas.

Efek Samping cetirizine 

Obat cetirizine memiliki beberapa efek samping yang umum terjadi, yaitu:

  • Pusing
  • Mengantuk
  • Mulut kering
  • Terasa lelah
  • Batuk
  • Mual
  • Sakit tenggorokan
  • Sakit kepala
  • Sembelit
  • Tubuh terasa panas
  • Keringat meningkat
  • Mengalami gangguan pencernaan
  • Perut terasa nyeri dan tidak nyaman
  • Mengalami perubahan rasa ketika makan
  • Merasa sensasi terbakar, mati rasa, kesemutan, tertusuk-tusuk, dan gatal
  • Sendawa
  • Asam lambung

Efek samping ini mungkin tidak dialami oleh semua orang. Mungkin juga efek samping yang dirasakan berbeda dengan yang disebutkan di atas. Termasuk efek samping cetirizine untuk ibu hamil yang mungkin juga dirasakan.

Kapan Harus Mendapatkan Imuniasi TT?

Salah satu vaksin yang penting dan harus diberikan kepada anak-anak serta orang dewasa agar terhindar dari penyakit tetanus adalah vaksin tetanus. Perlu dketahui bahwa orang yang tidak mendapatkan vaksin ini lebih rentan terkena penyakit tetanus yang bisa menyebabkan kelumpuhan hingga kematian, maka dari itu manfaat imunisasi tt sangat berdampak pada kesehatan.

Munculnya penyakit tetanus disebabkan karena infeksi bakteri Clostridium tetani, merupakan salah satu bakteri yang banyak ditemukan di tanah, lumpur dan kotoran hewan atau manusia. Bakteri penyebab penyakit ini bisa masuk ke dalam tubuh manusia lewat luka terbuka di kulit, seperti luka tusukan atau tergores benda tajam.

Manfaat Imunisasi TT

Tujuan utama pemberian vaksin ini adalah untuk mencegah sekaligus menurunkan risiko seseorang tertular penyakit tetanus. Vaksin ini sangat disarankan diberikan secara rutin pada anak dan orang dewasa, termasuk bayi yang baru saja lahir. Manfaat vaksin ini lebih kepada mencegah infeksi bakteri Clostridium tetani yang racunnya dapat menyebabkan kekauan otot.

Inilah penyebab munculnya gejala kaku otot dan tegang di seluruh tubuh sebagai ciri utama dari infeksi tetanus. Infeksi ini sama sekali tidak boleh dianggap sepele, karena bisa memicu gangguan kesehatan serius yang bisa menyebabkan kematian. Tetanus ditandani dengan kondisi kaku dan tegang yang terjadi pada seluruh tubuh seseorang yang terinfeksi virus ini.

Gejala yang muncul disebut bisa sangat menyakitkan dan pada umumnya akan muncul pada empat hingga 21 hari setelah munculnya infeksi. Penyakit ini sebenarnya jarang terjadi, namun seseorang tetap harus waspada dan disarankan segera memeriksakan diri ke dokter apabila mengalami beberapa gejala, seperti tegang dan kaku pada otot, termasuk rahang, leher dan perut.

Keadaan tersebut dapat menyebabkan seseorang yang mengalami infeksi kesulitan untuk bernapas dan menelan. Dalam beberapa kasus, infeksi ini juga menyerang bayi disebabkan karena perawatan tali pusar yang tidak dilakukan dengan benar, seperti memotong tali pusar tidak menggunakan alat yang steril dan bersih dari kuman.

Jenis dan Kapan Imunasi TT

  • Vaksin DPT

Merupakan vaksin kombinasi yang diakai untuk mencegah penyakit difteri, tetanus dan pertusis. Vaksin ini diberikan pada anak sebanyak lima kali, tiga dosis di awal saat usia dua, tiga dan empat bulan. Dilanjutkan dengan pemberian vaksin ulangan atau booster ketika sudah berusia 18 bulan dan lima tahun.

  • Vaksin DPT/Hib

Vaksin yang sama-sama efektif untuk mencegah tetanus dan memiliki jadwal pemberian yang sama dengan vaksi DPT. Menariknya, vaksin ini juga bisa menghasilkan kekebalan terhadap bakteri Haemophilus influenzae type b, merupakan penyebab infeksi berat seperti meningitis dan pneumonia.

  • Vaksin TD

Merupakan vaksin lanjutan setelah penerima mendapatkan kedua vaksin di atas, diberikan sebagai dosis keenam dan ketujuh. Pada anak yang sebelumnya rutin menerima vaksin DPT atau DPT/Hib, pemberian yang dilakukan ketika anak berusia 10 hingga 12 tahun dan 18 tahun, selain itu vaksin ini juga akan diberikan pada orang dewasa yang belum pernah pernah diberi.

Selain dari manfaat imunisasi TT, yang perlu diketahui terkait hal ini adalah vaksin juga diberkan pada ibu hamil. Yang diberikan adalah jenis TdaP sebanyak satu kali ketika usia kehamilan mencapai 27-36 minggu. Apabila ibu hamil belum pernah mendapat vaksin selama masa kehamilan, maka vaksin tetanus ini bisa diberikan saat masa menyusui.