Category: Kesehatan Mental

Apakah Kebiasaan Mengunyah Es Kamu Termasuk Pagophagia?

Apakah Kebiasaan Mengunyah Es Kamu Termasuk Pagophagia?

Mungkin, tanpa Anda sadari hal ini biasanya dilakukan, tetapi jangan cepat memutuskan bahwa Anda mengalami pagophagia. Kondisi ini biasanya terjadi akibat Anda sedang mengalami bosan saja.

Ketika siang-siang matahari sedang panas-panasnya, ada perasaan yang mendorong untuk minum yang dingin-dingin, lalu menyisakan es batu, yang kemudian tanpa sadar mengunyahnya. Memang, hal ini menjadi kebiasaan yang terus menerus dilakukan karena terasa mengasyikkan dan seakan memiliki sensasi tersendiri di mulut.

Mungkin hal ini sangat sepele, apalagi jika tanpa sadar hal ini sudah menjadi kebiasaan hingga keseharian. Ternyata perilaku ini disebut pagophagia. Kecenderungan akan pendorong dalam diri yang berkeinginan untuk mengunyah, mengemut es batu. Dan sebenarnya, pagophagia ini tidaklah baik lho, untuk kesehatan tubuh, justru malah membawa keburukan. Akan tetapi, belum tentu juga, kalau kamu makan es batu, lalu langsung menyimpulkan bahwa kamu mengidap pagophagia. Nah, untuk tau apakah kamu mengalami pagophagia atau tidak, yuk simak ulasan berikut.

Gejala maupun tanda-tanda yang bisa mencirikan kamu sedang mengalami pagophagia :

  • Keadaan saat seseorang membutuhkan es batu secara terus menerus yang sangat sering dan bisa bertahan selama lebih dari sebulan. Pagophagia ini termasuk ke dalam kelainan makan yang langka, yang disebut juga pica. Pagophagia ialah sebutan yang lebih spesifik untuk kelainan makan es batu.
  • Tubuh merasakan dehidrasi. Saat tubuh merasa dehidrasi, mulut dan tenggorokan akan terasa kering dan seakan mendorong diri untuk mengonsumsi sesuatu yang dapat menyegarkan tenggorokan. Salah satunya dengan mengunyah es batu.
  • Otak merasa kekurangan oksigen. Saat otak merasa kekurangan oksigen, dorongan untuk mengonsumsi sesuatu yang dingin dan menyegarkan akan naik, sehingga orang terdorong untuk mengonsumsi es batu.
  • Sudah memiliki penyakit anemia (defisiensi zat besi). Seseorang yang mengalami anemia, lebih berisiko memiliki kecenderungan untuk mengidap pagophagia juga.

Untuk mengetahui apakah seseorang termasuk mengidap pagophagia bisa dideteksi dari frekuensi sebanyak apa orang itu mengonsumsi es batu tiap harinya. Jika hanya menghabiskan 1-3 es batu yang ada di cangkir saja, maka itu bukanlah menjadi masalah. Akan tetapi, jika secara konstan tidak bisa berhenti mengonsumsi es batu, atau sangat sering dan bisa melebihi 5 buah es batu, maka kamu perlu khawatir akan hal itu dan berkonsultasi dengan dokter ahli. 

Penyebab mengapa  pagophagia ini bisa terjadi belumlah jelas. Tetapi berbagai peneliti berpendapat sebagai berikut :

1. Mengalami gangguan makan

Sebagian orang yang sedang memiliki gangguan makan lain, mengatasi rasa laparnya dengan mengunyah dan mengonsumsi es batu untuk mengurangi rasa akan lapar. Meski tidak ada kalori dalam es batu, tetapi kebiasaan ini mungkin terjadi dan bisa berkembang menjadi golongan pagophagia ke tingkatan yang lebih kompulsif.

2. Tubuh kekurangan akan mikronutrien (zat gizi mikro)

Mikronutrien ialah zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah yang kecil. Seseorang yang mengalami defisiensi mikronutrien biasanya menunjukkan keinginan untuk memakan makanan yang tidak mengandung gizi, seperti kalsium atau zat besi. Es batu salah satu hal yang bisa dimakan namun tidak memiliki nilai gizi. 

Meskipun keadaan mikronutrien ini berkaitan erat dengan adanya defisiensi zat besi atau anemia, yang juga bisa menjadi salah satu alasan seseorang mengunyah es batu untuk meredakan pembengkakan pada lidah sebagai gejala anemia.

3. Kondisi mental seseorang

Sebagian orang yang terus menerus mengonsumsi es batu setiap harinya bisa menandakan adanya gangguan akan perkembangan, emosional, maupun mental orang tersebut. Pagophagia bisa menjadi tanda adanya permasalahan emosional seperti, merasa stres, OCD (gangguan obsesif-kompulsif), gangguan perkembangan, maupun emosional lainnya. Dibutuhkan evaluasi menyeluruh kepada pengidap pagophagia untuk dapat membantu mencari solusi dan cara pengobatan yang tepat, disesuaikan dengan kondisi medis yang mendasari terjadinya. Jika emosional atau perkembangan seseorang yang menjadi dasar penyebabnya, maka diperlukan terapi perilaku kognitif untuk membantu pengidap lepas dari kebiasaannya pagophagia.

4. Faktor lain dari luar

Sebagian peneliti mempercayai, bahwa pagophagia terjadi disebabkan oleh adanya infeksi bakteri maupun genetik yang mempengaruhi. Karena kondisi hal ini yang masih jarang, maka masih diperlukan penelitian yang lebih dalam lagi mengenai hipotesis ini. Nah, apakah konsumsi es batu kamu termasuk ke dalam kebiasaan yang wajar? Atau justru perlu konsultasi kepada dokter ahli untuk menentukannya? Meski hal ini terlihat cukup sepele, namun jangan diabaikan begitu saja, karena tentu dampaknya bisa menghambat aktivitasmu.

Pahami Penyebab dan Cara Penanganan Serta Mengobati Delusional

Pahami Penyebab dan Cara Penanganan Serta Mengobati Delusional

Delusional yang sebelumnya disebut dengan paranoid adalah suatu penyakit mental serius yang sering disebut gangguan psikotik. Orang yang mengalami delusional tidak mampu membedakan apa yang nyata benar-benar terjadi dan tidak.

Delusi adalah gejala utama dari delusional. Orang yang mengalami delusional sangat yakin bahwa apa yang mereka lihat itu benar dan berdasarkan kenyataan. Namun, hal tersebut bukan berarti mereka sama sekali tidak realistis. Delusional biasanya melibatkan persepsi yang salah, dan apa yang mereka lihat cenderung dibesar-besarkan.

Orang yang mengalami gangguan delusional sebetulnya masih bisa bersosialisasi dan bergaul dengan normal. Mereka juga tidak tampak seperti orang dengan gangguan psikotik lainnya. Tetapi dalam beberapa kasus, orang dengan gangguan delusional justru menjadi asyik dengan delusi mereka sendiri yang menyebabkan kehidupan mereka terganggu.

Meski delusional merupakan salah satu gejala dari gangguan yang lebih umum, seperti skizofrenia, gangguan delusional sendiri agak jarang terjadi. Gangguan delusional paling sering terjadi pada usia pertengahan hingga akhir dan sedikit lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan pada pria.

Jenis Delusional

Erotomanic

Orang dengan jenis delusional seperti ini percaya bahwa seseorang seperti orang terkenal jatuh cinta padanya dan mungkin mencoba menghubungi orang itu. Delusional ini berbahaya karena dapat menyebabkan perilaku menguntit.

Grandiose

Orang dengan jenis delusional seperti ini memiliki rasa harga diri, kekuasaan, pengetahuan, atau identitas yang berlebihan. Mereka sangat percaya bahwa mereka memiliki bakat hebat atau bisa membuat penemuan penting.

Jealous

Seseorang dengan tipe delusional ini percaya bahwa pasangan atau pasangan seksualnya tidak setia.

Penganiayaan (Persecutory)

Seseorang yang memiliki delusional tipe ini percaya bahwa mereka (atau seseorang yang dekat dengan mereka) dianiaya, atau bahwa seseorang akan memata-matai mereka atau berencana untuk menyakiti mereka. 

Somatik

Penderita delusional dengan jenis ini yakin bahwa mereka memiliki cacat fisik atau masalah medis.

Campuran

Orang-orang ini memiliki dua atau lebih jenis delusional yang tercantum di atas.

Penyebab Delusional

Para peneliti tidak terlalu yakin mengenai penyebab pasti dari timbulnya delusional. Namun, tampaknya berbagai faktor genetik, biologis, psikologis dan lingkungan juga berpengaruh.

Gangguan psikotik tampaknya diturunkan dalam keluarga, jadi peneliti menduga ada komponen genetik pada delusional ini. Anak-anak yang lahir dari orangtua penderita skizofrenia, mungkin berisiko lebih tinggi mengalami delusional.

Kelainan di otak juga mungkin berperan. Ketidakseimbangan neurotransmiter (pembawa pesan kimiawi di otak) dapat meningkatkan kemungkinan menderita delusional.

Trauma dan stres juga dapat memicu delusi. Sementara itu, individu yang terisolasi tampak lebih rentan untuk menjadi delusional juga.

Tak hanya itu saja, terkadang orang juga bisa berbagi delusional. Pengalaman ini paling umum terjadi pada individu yang tinggal bersama dan memiliki sedikit kontak dengan dunia luar.

Cara Penanganan dan Mengobati Delusional

Penanganan dan pengobatan untuk delusional mencakup kombinasi dalam penggunaan obat-obatan dan terapi.

Obat-obatan untuk Delusional

Obat yang digunakan untuk mengobati delusional meliputi:

  • Antipsikotik

Obat-obatan ini digunakan untuk memblokir reseptor dopamin di otak. Dopamin adalah neurotransmitter yang diyakini memengaruhi perkembangan delusi.

  • Antipsikotik atipikal

Obat-obatan ini digunakan untuk memblokir dopamin dan juga reseptor serotonin di otak. 

  • Obat penenang

Obat penenang digunakan untuk mengatasi kecemasan, gelisah, dan masalah tidur yang umum terjadi pada orang dengan gangguan delusi.

  • Antidepresan

Obat-obatan antidepresan bertujuan untuk membantu mengobati depresi jika seseorang dengan delusional mengalami masalah mood.

Terapi untuk Delusional

Terapi yang digunakan yaitu terapi perilaku kognitif (CBT) yang membantu seseorang belajar mengenali dan mengubah pikiran dan perilaku. Terapi keluarga juga digunakan sebagai salah satu bagian dari pengobatan, agar anggota keluarga dapat belajar bagaimana memberikan dukungan seseorang yang mengalami delusional.

Mengenal Thanatophobia, Rasa Takut Kehilangan Nyawa

Thanatophobia adalah rasa takut kehilangan nyawa atau kematian. Secara lebih spesifik, takut mati atau takut proses kematian/sekarat. Merupakan sebuah hal yang alami bagi seseorang untuk khawatir dengan kesehatan diri sendiri terutama saat mereka bertambah usia. Juga merupakan hal yang umum dijumpai bagi seseorang untuk khawatir terhadap teman atau keluarga setelah ia meninggal. Namun, bagi beberapa orang, rasa kekhawatiran ini dapat berkembang menjadi rasa takut yang problematis. Lembaga Psikiater Amerika secara resmi tidak mengakui thanatophobia sebagai sebuah gangguan. Rasa cemas yang seseorang hadapi karena rasa takut ini dianggap sebagai kecemasan umum. Gejala dan tanda-tanda thanatophobia di antaranya adalah kecemasan, ketakutan, dan kesedihan. Perawatan thanatophobia berfokus pada belajar fokus ulang ketakutan dan berbicara tentang perasaan dan kekhawatiran. 

Gejala takut kehilangan nyawa atau thanatophobia mungkin tidak akan muncul setiap waktu. Faktanya, mungkin Anda hanya akan memperhatikan tanda dan gejala rasa takut ini ketika dan jika Anda mulai memikirkan tentang kematian atau kematian orang yang terkasih. Gejala umum kondisi psikologis ini di antaranya adalah serangan panik yang lebih sering terjadi, kecemasan yang meningkat, pusing, berkeringat, detak jantung yang tidak teratur, mual, sakit perut, dan sensitivitas terhadap suhu panas atau dingin. Saat episode thanatophobia mulai memburuk, Anda juga akan merasakan beberapa gejala emosional, seperti menghindari teman atau keluarga dalam waktu yang lama, marah, sedih, gelisah, rasa bersalah, dan rasa cemas yang terus ada. 

Faktor risiko

Beberapa orang memiliki risiko lebih tinggi dalam memiliki rasa takut kehilangan nyawa atau kematian. Faktor kebiasaan, perilaku, dan kepribadian dapat meningkatkan risiko Anda dalam menderita thanatophobia. 

  • Usia. Kecemasan akan kematian mencapai puncaknya pada orang-orang yang berusia 20an. Rasa takut ini akan mulai pudar saat bertambah usia. 
  • Jenis kelamin. Baik pria dan wanita mengalami thanatophobia saat mereka berusia 20an. Akan tetapi, wanita mengalami peningkatan thanatophobia kedua saat mereka berusia 50 tahun. 
  • Kerendahan hati. Orang-orang yang tidak rendah hati akan lebih cemas tentang kematian mereka sendiri. Sementara itu, orang-orang yang rendah hati akan lebih mudah menerima nasib atau takdir mereka, sehingga mereka tidak memiliki kecemasan dalam menghadapi kematian. 
  • Gangguan kesehatan. Orang yang memiliki masalah kesehatan fisik mengalami rasa takut dan kecemasan yang lebih besar dalam menghadapi masa depan mereka. 

Thanatophobia bukanlah sebuah kondisi yang diakui secara klinis. Tidak ada tes yang dapat membantu dokter mendiagnosa fobia ini. Namun, daftar gejala yang Anda rasakan dapat membantu dokter memahami apa yang sedang Anda alami saat ini. Diagnosa resmi untuk kondisi ini dapat berupa kecemasan. Akan tetapi, dokter akan berfokus bahwa kecemasan Anda berdasarkan akan rasa takut kehilangan nyawa atau kematian. Beberapa orang dengan kecemasan ini akan mengalami gejala lebih lama dari 6 bulan. Mereka juga akan merasa ketakutan atau kecemasan terhadap masalah-masalah lain. Diagnosa untuk kondisi kecemasan yang lebih luas dapat digeneralisasikan sebagai gangguan kecemasan. Apabila dokter tidak yakin dengan diagnosa yang ia buat, dokter akan merekomendasikan Anda pada penyedia layanan kesehatan mental, seperti terapis, psikologis, dan psikiater. Mereka akan membuat diagnosa dan menyediakan pilihan perawatan untuk kondisi Anda. Perawatan rasa takut kehilangan nyawa berfokus pada mengurangi ketakutan dan kecemasaan yang berhubungan dengan topik tersebut. Untuk melakukan hal ini, dokter akan menggunakan beberapa jenis terapi, seperti terapi berbicara, terapi perilaku kognitif, teknik relaksasi, dan penggunaan obat-obatan. 

Asal Usul Teori Pavlov

Asal Usul Teori Pavlov

Teori Pavlov adalah teori yang ditemukan oleh ahli fisiologi Rusia Ivan Pavlov, yang juga dikenal sebagai pengkondisian klasik. Teori ini adalah proses pembelajaran yang terjadi melalui asosiasi antara rangsangan lingkungan dan rangsangan yang terjadi secara alami.

Eksperimen anjing Pavlov memainkan peran penting dalam penemuan salah satu konsep terpenting dalam psikologi. Meskipun awalnya ditemukan secara tidak sengaja, eksperimen terkenal ini mengarah pada penemuan pengkondisian klasik atau teori Pavlov. Penemuan ini berdampak besar pada pemahaman tentang bagaimana pembelajaran terjadi serta perkembangan sekolah psikologi perilaku.

Saat mempelajari pencernaan pada anjing itulah Pavlov mencatat kejadian menarik: Subjek anjingnya akan mulai mengeluarkan air liur setiap kali seorang asisten memasuki ruangan. Dalam penelitian pencernaannya, Pavlov dan asistennya akan memperkenalkan berbagai barang yang dapat dimakan dan tidak dapat dimakan dan mengukur produksi air liur yang diproduksi barang tersebut. Air liur, katanya, adalah proses refleksif. Hal itu terjadi secara otomatis sebagai respons terhadap rangsangan tertentu dan tidak berada di bawah kendali sadar.

Penemuan Pavlov tentang pengkondisian klasik tetap menjadi salah satu teori yang paling penting dalam sejarah psikologi. Selain membentuk dasar dari apa yang akan menjadi psikologi perilaku, proses pengkondisian klasik tetap penting saat ini untuk berbagai aplikasi, termasuk modifikasi perilaku dan perawatan kesehatan mental, termasuk mengobati fobia, kecemasan, dan gangguan panik.

Akan sangat membantu untuk melihat beberapa contoh bagaimana proses pengkondisian klasik beroperasi baik dalam pengaturan eksperimental dan dunia nyata. Dalam satu studi lapangan yang terkenal, para peneliti menyuntik bangkai domba dengan racun yang dapat membuat anjing hutan sakit tetapi tidak membunuh mereka. Tujuannya adalah untuk membantu peternak domba mengurangi jumlah domba yang hilang karena pembunuhan coyote.

Eksperimen tersebut tidak hanya berhasil dengan menurunkan jumlah domba yang dibunuh, tetapi juga menyebabkan beberapa coyote mengembangkan ketidakmauan yang kuat terhadap domba sehingga mereka benar-benar melarikan diri saat mencium atau melihat domba.

Pada kenyataannya, orang tidak merespons persis seperti anjing Pavlov. Namun, ada banyak aplikasi dunia nyata untuk teori pengkondisian klasik. Misalnya, banyak pelatih anjing menggunakan teknik pengondisian klasik untuk membantu orang melatih hewan peliharaan mereka.

Teknik ini juga berguna untuk membantu orang mengatasi fobia atau masalah kecemasan. Terapis mungkin, misalnya, berulang kali memasangkan sesuatu yang memicu kecemasan dengan teknik relaksasi untuk menciptakan asosiasi.

Guru mampu menerapkan pengkondisian klasik di dalam kelas dengan menciptakan lingkungan kelas yang positif untuk membantu siswa mengatasi kecemasan atau ketakutan. Memasangkan situasi yang memicu kecemasan, seperti tampil di depan kelompok, dengan lingkungan yang menyenangkan membantu siswa mempelajari asosiasi baru. Alih-alih merasa cemas dan tegang dalam situasi ini, anak akan belajar untuk tetap rileks dan tenang.

Salah satu contoh penerapan teori Pavlov bisa dilihat dari program untuk mengatasi ketergantungan Anda pada gadget alias gawai. Contohnya, ponsel, tab, serta laptop. Keberhasilan menerapkan teori Pavlov untuk mengurangi kecanduan gawai atau ketergantungan lainnya tentu saja memerlukan konsistensi serta niat yang kuat. Jika Anda ingin tahu lebih banyak tentang teori Pavlov dan ajaran psikologi lainnya, Anda dapat menanyakan langsung pada dokter.

Tingkatkan Motivasi dan Sikap Pantang Menyerah Saat Depresi

Sikap pantang menyerah adalah kunci sukses dalam hidup

Depresi merupakan sebuah gangguan mental yang umum dijumpai. Di Amerika Serikat, diperkirakan ada sekitar 16,2 juta orang dewasa yang pernah mengalami episode depresi dalam hidup mereka. Gejala depresi berkisar dari ringan hingga parah. Depresi dapat bersifat kronis, dan kondisi ini bisa terjadi sekali yang dipicu oleh kejadian hidup yang traumatis, misalnya kematian anggota keluarga, akhir suatu hubungan pernikahan, atau kesulitan keuangan. Beberapa gejala depresi di antaranya adalah berkurangnya ketertarikan terhadap aktivitas-aktivitas yang tadinya disukai, insomnia atau meningkatnya kebutuhan untuk tidur, hilangnya atau bertambahnya nafsu makan, mudah marah, kesulitan berkonsentrasi, dan pikiran bunuh diri. Saat depresi, memiliki motivasi dan sikap pantang menyerah sangatlah penting. Artikel ini akan membahas hal-hal apa saja yang bisa Anda lakukan untuk meningkatkan kedua hal tersebut. 

Motivasi diri dan pantang menyerah

Apabila pikiran untuk melakukan sesuatu terasa sulit dan mustahil dilakukan, cobalah melakukannya dari hal-hal paling kecil. Untuk memotivasi diri dan memiliki sikap pantang menyerah, Anda dapat membuat “goal” atau tujuan yang kecil dan mudah. Saat tujuan tersebut terpenuhi, Anda bisa menambahkan hal-hal lain yang perlu dilakukan dan dicapai. Beberapa hal untuk memulai membangun motivasi dan sikap pantang menyerah tersebut di antaranya adalah:

  • Bangun dari tempat tidur

Meskipun terlihat sederhana, saat Anda mengalami depresi, bangun dari tempat tidur dapat disebut sebagai pencapaian pertama yang patut dirayakan. Tinggalkan beberapa pesan tempel di dekat Anda yang berisi hal-hal positif seperti “jangan menyerah”, atau “kamu bisa melakukannya”. Otak Anda akan mencerna pikiran-pikiran yang Anda buat, sehingga cobalah untuk mengisi pikiran tersebut dengan hal-hal yang positif. 

  • Jalan-jalan

Olahraga membantu tubuh melepaskan endorphin, hormon yang akan membuat Anda merasa baik. Olahraga selama 35 menit setiap harinya, 5 hari seminggu, dapat meringankan gejala depresi ringan hingga sedang. Dalam sebuah studi, ditemukan bahwa latihan aerobik selama 4 minggu dapat mengatasi gejala depresi. 

  • Tangan yang kotor dapat tingkatkan suasana hati

Menurut sebuah studi pada hewan, ada sebuah jenis bakteri tertentu yang ditemukan di tanah bernama M. vaccae yang dapat meningkatkan produksi serotonin. Serotonin ini berfungsi dalam membantu mengurangi gejala depresi. Selain itu, bakteri yang ditemukan di makanan yang difermentasi seperti yogurt juga dapat meningkatkan suasana hati dengan cara mengurangi kecemasan dan meringankan gejala depresi. 

  • Hindari hal-hal negatif

Aktivitas-aktivitas sehari-hari dapat memberi dampak pada suasana hati dan motivasi Anda. Bahkan hanya sekedar membaca berita di koran, berselancar di internet, atau berbicara dengan orang lain dapat membuat Anda merasa terkuras secara emosi, sehingga menyebabkan Anda untuk memiliki pikiran negatif. Fokuslah untuk merasa bersyukur, membaca hal-hal yang berbau positif dan berkumpul dengan orang-orang yang positif akan membuat Anda memiliki motivasi dan sikap pantang menyerah

  • Dapatkan tidur yang cukup

Depresi tidak hanya akan menguras mental, tetapi juga fisik. Tidur terlalu banyak atau terlalu sedikit dapat memengaruhi suasana hati Anda. Cobalah untuk tidur selama 8 jam setiap harinya. 

Kurangnya motivasi dan sikap pantang menyerah merupakan tanda-tanda adanya depresi. Namun, hal tersebut juga dapat disebabkan oleh hal lain, misalnya Anda bisa kekurangan motivasi saat berhadapan dengan tantangan yang dapat memengaruhi rasa percaya diri. Mungkin terlihat sulit, namun sikap pantang menyerah akan membantu meningkatkan motivasi, dan lambat laun Anda bisa melakukan hal-hal seperti biasanya dengan lebih mudah.