Category: Penyakit

Ini 5 Tahap Perjalanan Sindrom Parkinson

Sindrom Parkinson adalah penyakit progresif yang menyerang sistem saraf. Kondisi ini umumnya disebabkan karena kurangnya zat pada otak, yaitu dopamine. Penderitanya dapat mengalami gangguan dalam pergerakan seperti sering terjadi tremor, tubuh kaku, hingga gangguan saat berbicara. Pada Sebagian besar kasus, sindrom Parkinson mulai disadari pada usia di atas 60 tahun. Akan tetapi, pada beberapa orang, kondisi ini bisa terjadi lebih dini.

Tahapan sindrom Parkinson

Sindrom Parkinson dapat terbagi dalam 5 tahap. Pada setiap tahap ini ditandai dengan perubahan gejala yang terjadi pada penderitanya. Berikut penjelasannya:

Tahap 1

Tahap ini merupakan tahap awal dimana penderita sindrom Parkinson hanya dapat mengalami gejala ringan. Sindrom Parkinson yang dialami berupa gangguan pada satu tubuh. Jika terjadi pada area wajah juga, bisa menyerupai gejala penyakit stroke. Pada tahap awal ini, sindrom Parkinson tidak menyebabkan gangguan aktivitas penderitanya. Namun, dengan pengobatan yang tepat, gejala dapat berkurang hingga hilang.

Tahap 2

Tahap ini bisa terjadi dalam rentang beberapa bulan atau tahun kemudian. Seseorang yang menderita sindrom Parkinson, pada tahap ini akan menjadi lebih lambat dalam melakukan suatu aktivitas. Akan tetapi, salah satu sisi juga akan menjadi lebih ringan.

Tahap 3

Pada tahap ke-3 ini merupakan titik balik perjalanan sindrom Parkinson yang dialami. Sebagian besar gejala menyerupai dengan tahap 2, namun penderitanya mulai mengalami kehilangan keseimbangan dan penurunan reflex sehingga rentan terjatuh. Hambatan dalam melakukan aktivitas mulai terasa nyata pada tahap ini. Meskipun masih dapat diselesaikan, untuk mengurangi keparahan gejala di tahap ini biasanya dilakukan dengan kombinasi obat dan terapi okupasi.

Tahap 4

Penderita sindrom Parkinson pada tahap keempat ini akan membutuhkan bantuan orang lain dan sebaiknya tidak ditinggalkan sendiri. Penderita sindrom ini tidak bisa beraktivitas secara mandiri.

Tahap 5

Pada tahap terakhir, penderitanya akan mengalami kekakuan di area kaki hingga tidak dapat berjalan seperti biasa dan tidak bisa berdiri. Penderitanya akan membutuhkan kursi roda dan pendamping sepanjang waktu untuk mencegah terjatuh.

Waspadai Sindrom Guillain-Barre dan Gejala yang Mungkin Muncul

Rasa kesemutan tentu pernah dialami banyak orang. Namun, jika kondisi ini terjadi dalam intensitas yang cukup sering, sebaiknya Anda perlu waspada. Terlebih, jika kesemutan tersebut juga diikuti dengan kondisi lain, seperti sulit bernapas ketika berbaring. Kedua kondisi ini dapat menjadi gejala awal dari sindrom Guillain-Barre.

Sindrom Guillain-Barre atau yang disingkat dengan GBS adalah kumpulan dari gejala yang menyerang sistem saraf, di antaranya saraf tepi, saraf tulang belakang, dan saraf otak.

Pada dasarnya, sindrom ini dapat menyerang siapa saja. Namun, mayoritas pasien yang menderita sindrom Guillain-Barre meliputi kelompok usia 15-35 tahun dan juga 54-74 tahun.

Sering kesemutan dan mengalami kesulitan bernapas hanya dua contoh dari beberapa kemungkinan gejala lain yang dapat terjadi, seperti:

  • Kaki terasa lemas dan merasakan sensasi ini bahkan hingga tubuh bagian atas dalam kurun waktu yang cukup singkat, yaitu kurang dari 4 minggu saja.
  • Merasakan sensasi seperti tertusuk-tusuk jarum pada bagian jari-jari tangan dan kaki, pergelangan tangan, maupun kaki.
  • Mengalami kesulitan dalam menggerakkan bagian wajah tertentu, seperti ketika ingin berbicara, mengunyah, dan menelan.
  • Kehilangan keseimbangan ketika berjalan. Dalam kasus tertentu, bahkan seseorang tidak dapat berjalan atau menaiki tangga sama sekali.
  • Detak jantung berdebar lebih cepat.
  • Mengalami kesulitan dalam mengontrol dan menahan ketika ingin buang air besar atau kecil.

Jika Anda mengalami sebagian besar kondisi seperti yang disebutkan, maka sudah seharusnya Anda berkonsultasi pada dokter. Diagnosis yang dilakukan lebih dini, dapat berpengaruh terhadap proses pemulihan yang lebih cepat.

Bagaimana sindrom Guillain-Barre diobati?

Nyatanya, GBS sangat mungkin dapat diobati. Walaupun begitu, dalam beberapa kasus tertentu, penderita GBS diminta untuk menjalani perawatan di rumah sakit, karena khawatir terjadi komplikasi lain yang membahayakan nyawa. Pasien butuh untuk dimonitor setiap saat secara intensif agar kondisi terkini detak jantung, infeksi, atau kemungkinan lain seperti pembekuan darah, penurunan maupun peningkatan tekanan darah, dapat diketahui.

Ada pun perawatan yang umumnya dijalani:

  • Plasmapheresis, yaitu proses pengambilan darah yang kemudian akan memisahkan bagian plasma dengan selnya. Sel-sel tersebut akan dimasukkan kembali ke dalam tubuh, sehingga plasma dapat diproduksi dalam jumlah yang lebih banyak.
  • Terapi imunoglobulin, yaitu proses perawatan dengan intravena. Imunoglobulin itu sendiri mengandung antibodi sehat dari pendonor darah yang ditransfusikan lewat pembuluh darah.

Ketika Polip Tumbuh di Pulpa Gigi

Pulpa gigi berisi saraf dan pembuluh darah, gigi yang mati biasanya sudah tidak menimbulkan keluhan rasa sakit, tetapi bukan berarti tidak ada masalah yang bisa menimpa gigi tersebut. Polip pulpa adalah masalah yang sering ditemukan pada gigi yang pulpanya sudah mati atau gigi mati. Pulpa merupakan bagian terpenting dari gigi, letaknya ada di dalam gigi di bawah lapisan email gigi dan dentin. Pada pulpa gigi, pertumbuhan jaringan (benjolan) bersifat menetap atau tidak dapat kembali mengecil meskipun faktor penyebab peradangan telah teratasi.

Kondisi ini dapat dicegah dengan kebiasaan menjaga kebersihan mulut dan gigi seperti rutin menyikat gigi dan flossing. Ditambah dengan bantuan sistem imunitas tubuh, penyakit mulut dan gigi umumnya dapat dicegah. Namun, tanpa kebiasan menjaga kebersihan gigi dan mulut yang tepat, bakteri-bakteri bisa saja tetap berkembang di mulut dan menyebabkan infeksi pada gigi serta gusi.

Gigi yang berlubang, infeksi, gusi bengkak dan masalah-masalah gigi lainnya harus mendapatkan perawatan. Gigi berlubang yang tidak diatasi dalam jangka waktu yang lama bisa menyebabkan gigi mati, artinya saraf gigi sudah mati dan pembuluh darah sudah tidak dapat menyuplai darah ke gigi tersebut. Lupang yang tetap tidak terawat sampai pulpa mati bisa menjadi pintu masuk bakteri ke pulpa gigi. Kemudian bakteri akan menyebabkan peradangan kronis sehingga sel-sel pada pulpa terus bertambah. Sehingga dalam jangka waktu lama, muncul polip pulpa.

Gejala adanya polip pulpa adalah munculnya benjolan kecil lunak berwarna merah atau putih keruh pada lubang di gigi mati. Benjolan tersebut memang tidak menyebabkan rasa sakit, tetapi mengganggu kenyamanan saat gigi digunakan untuk menggigit atau mengunyah makanan. Benjolan polip pulpa juga mudah berdarah bisa tersentuh.

Polip pulpa yang didiamkan bisa menyebabkan gusi bengkak dan gigi tanggal. Oleh karena itu, sebaiknya segera periksakan gigi ke dokter jika merasa ada polip pulpa yang tumbuh. Tindakan yang bisa dilakukan untuk mengatasi polip pulpa adalah dengan pemotongan polip dan pengambilan jaringan pulpa. Setelah itu, akan dilakukan perawatan saluran akar gigi dan penambalan lubang. Jika kerusakan pada gigi sudah terlalu parah, maka pilihannya dengan mencabut gigi mati tersebut.

Polip Usus Bisa Menjadi Pertanda Kanker Usus Besar

Polip usus bisa menyebabkan buang air besar disertai darah yang keluar dari saluran pencernaan. Benjolan pada usus besar ini biasanya tidak menunjukkan gejala apapun sehingga jika Andan buar air bisar dan berdarah, maka hal tersebut dapat dicurigai Anda memiliki gangguan polip usus. Beberapa jenis polip usus tidak berbahaya namun jika polip usus tidak kunjung ditangani dengan baik, maka akan berkembang menjadi kanker usus besar.

Potensi kanker dapat meningkat seiring dengan pertumbuhan polip usus. Jika polip semakin membesar makan kemungkinan terjadinya kanker usus pun besar. Supaya polip usus tidak berkembang dan menjadi kanker usus, sebaiknya Anda memperhatikan gejala berikut ini.

Gejala polip usus

Perlu Anda tahu bahwa polip usus merupakan suatu kondisi dimana munculnya gumpalan sel berbentuk seperti benjolan kecil di bagian usus besar. Untuk mengetahui apakah Anda terkena polip usus atau tidak, Anda harus memeriksakan diri ke dokter. Gejala polip usus yang bisa Anda kenal antara lain:

  • Perubahan warna tinja

Warna tinja akan bertambah gelap atau kemerahan karena tinja yang dikeluarkan disertai darah.

  • Perubahan kebiasaan buang air besar

Penderita polip usus biasanya akan mengalami sembelit atau diare selama lebih dari satu minggu. Hal ini dapat menjadi tanda bahwa orang tersebut memiliki polip usus berukuran besar.

  • Terasa nyeri pada perut

Polip usus yang berukuran besar dapat menimbulkan rasa sakit perut karena kram perut.

  • Anemia defisiensi zat besi

Pendarahan yang muncul saat buang air besar karena polip usus akan membuat tubuh menjadi kehilangan zat besi.

Faktor penyebab polip usus

Penyebab dari polip usus belum diketahui secara pasti. Namun, ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya polip usus seperti:

  • Berusia diatas 50 tahun
  • Penderita diabetes tipe 2
  • Merokok dan mengonsumsi minuman beralkohol
  • Memiliki gangguan pencernaan seperti radang usus besar
  • Faktor keturunan

Risiko polip usus semakin besar jika keluarga Anda memiliki riwayat polip usus atau kanker usus. Apabila Anda mencurigai adanya gejala polip usus ataupun risiko polip usus pada diri Anda, sebaiknya segera periksakan diri Anda ke dokter. Hal ini dapat meminimalisir terjadinya kanker usus besar.