Ketahui Mitos dan Fakta Seputar Art Therapy

merapatkan tangan anak-anak menggambar di kertas putih. - art therapy potret stok, foto, & gambar bebas royalti

“Banyak metode yang bisa digunakan para terapis untuk membantu memulihkan kesehatan mental pasien, salah satunya art therapy. Ada beberapa mitos yang tersebar mengenai art therapy. Simak faktanya.”

Tahukah Anda bahwa art therapy merupakan metode yang bisa dilakukan untuk memulihkan kesehatan mental? Art therapy dilakukan dengan cara menuangkan emosi yang sedang pasien rasakan ke dalam bentuk karya seni. Tidak hanya memulihkan, art therapy juga bisa meningkatkan kualitas pada kesehatan mental.

Beberapa teknik yang biasa digunakan dalam art therapy, yaitu kolase, mewarnai, menggambar, coretan, fotografi, memahan, finger painting, dan banyak lagi.

Pasien akan diminta untuk melakukan salah satu metode di atas, lalu terapis akan menganalisa sekaligus mencari tahu apa yang sedang terjadi dan memberikan dampak buruk pada pikiran, emosi, serta perilaku pasien.

Banyak mitos yang beredar mengenai metode art therapy ini. Di bawah ini beberapa mitos dan fakta di yang sebenarnya mengenai art therapy.

Mitos: art therapy hanyalah seni dan kerajinan

Faktanya, art therapy telah digunakan sejak 1940-an dan digunakan sebagai metode pemulihan mental. Dahulu, pasien akan mengekspresikan diri secara verbal, dan diberikan berbagai bahan seni visual, seperti cat, spidol, tanah liat, benang, dan lainnya untuk mengekspresikan diri secara visual.

Art therapy akan melibatkan Anda dalam pengalaman kinestetik, sensorik, afektif, yang tentunya berbeda jauh dengan komunikasi verbal saja.

Setelah pasien mengekspresikan dirinya melalui visual, selanjutnya terapis akan menganalisa hasil tersebut. Dari situlah kondisi Anda akan terbaca, dan diberikan solusi terbaik.

Mitos: art therapy hanya seperti kelas seni

Faktanya, hal ini berbeda dengan kelas seni yang bertujuan untuk mempelajari keterampilan. Art therapy tidak mempelajari tentang seni sebagai keterampilan. Selain itu art therapy dilakukan secara bebas untuk mengekspresikan emosi pasien.

Sedangkan kelas seni memiliki tujuan untuk mempresentasikan sesuatu hingga seakurat mungkin dengan bentuk aslinya. Dengan demikian dalam melakukan art therapy tidak ada cara yang benar atau salah untuk melakukannya.

Mitos: perlu mengetahui beberapa bentuk seni untuk melakukan art therapy

Faktanya, Anda tidak perlu mahir dalam membuat seni atau memiliki kemampuan menggambar untuk melakukan art therapy.

Fokus art therapy adalah proses pembuatan seni, tidak pada kualitas produk atau hasil yang muncul. Dengan kata lain, seni yang dilakukan berfungsi untuk memahami pengalaman pasien, bukan membuat suatu produk.

Mitos: art therapy sama halnya dengan buku mewarnai

Faktanya, art therapy tidak hanya sekadar mewarnai, seorang profesional akan membimbing dan memberikan beberapa aturan, seperti bahan seni, nuansa, dan prosesnya. Terapis akan menyediakan ruang untuk pasien melakukan karya seninya dengan memfasilitasi perjalanan mereka hingga menuju penyembuhan.

Mewarnai sama halnya dengan Anda menulis sebuah jurnal. Hal tersebut bisa menjadi terapi, namun dengan bantuan ahli profesional Anda akan dibantu menemukan jalan keluar atas masalah yang sedang Anda hadapi.

Mitos: art therapy hanya untuk anak-anak

Faktanya, art therapy bisa dilakukan oleh siapapun tanpa halangan usia. Bahkan art therapy lebih ampuh saat dilakukan pada orang dewasa karena bisa menjadi cara menyampaikan pengalaman yang biasanya sulit diungkapkan melalui kata-kata.

Mitos: melakukan seni di setiap sesinya

Faktanya, tidak semua sesi akan membutuhkan art therapy. Beberapa sesi bisa diisi dengan pemrosesan makna atau berkonsultasi tentang kekhawatiran yang sedang dialami pasien. Para terapis memiliki kemampuan untuk memfasilitasi sesi berdasarkan tujuan setiap pasien.

Mitos: art therapy tidak bisa menangani semua masalah kesehatan mental

Faktanya, art therapy bisa bermanfaat bagi mereka yang memili masalah pada psikologis, seperti trauma, kesedihan, pemulihan dari penyakit, stres, atau hanya ingin meningkatkan kesehatan mental dan pertumbuhan diri.

Selain itu, menurut jurnal The Arts in Psychotherapy menyebutkan bahwa beberapa permasalahan di bawah ini bisa diatasi dengan melakukan art therapy.

  • Masalah penuaan
  • Gangguan kecemasan
  • Gejala psikologis dari kanker
  • Depresi
  • Gangguan makan
  • Masalah emosional
  • Masalah hubungan 
  • Masalah keluarga
  • Penyalahgunaan zat terlarang
  • Masalah perilaku pada anak
  • Gangguan belajar
  • Dll

Jadi, banyak jenis gangguan yang bisa dibantu dengan melakukan art therapy. Dengan mengetahui mitos dan fakta di baliknya, Anda tidak perlu lagi ragu saat ingin melakukan terapi ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *