Khawatir dengan Remaja Pacaran? Berikut 11 Cara Menghadapinya

Pertumbuhan anak adalah hal yang tidak dapat dihindari. Anak-anak akan memasuki fase remaja pacaran dan mencoba hal-hal baru yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Salah satunya adalah anak-anak remaja mulai penasaran dengan apa itu pacaran. 

Fenomena remaja pacaran sudah sangat sering ditemui. Beberapa gaya pacaran pun dianggap mengkhawatirkan karena dapat melanggar nilai-nilai dan norma yang berlaku di masyarakat. Sebagai orang tua, Anda dapat memberikan nasihat kepada remaja yang mulai berpacaran. Nasihat harus disampaikan dengan hati-hati agar remaja yang berpacaran dapat melihat sisi lain dari hal tersebut.

  1. Menghadapi Remaja Pacaran

Untuk menghindari dampak negatif dari pacaran, Anda dapat memastikan bahwa komunikasi Anda dengan anak berjalan baik. Topik mengenai pacaran bisa menjadi topik yang sensitif bagi remaja, sehingga harus disampaikan dengan cara yang tepat agar anak tidak menutup diri. Beberapa cara untuk menghadapi remaja pacaran adalah:

  1. Refleksi Diri

Sebelum mengambil tindakan, sebagai orang tua Anda dapat bertanya kepada diri sendiri terlebih dahulu apa alasan Anda tidak menyetujui anak berpacaran. Apakah faktor itu berasal dari penilaian subjektif atau objektif? 

Setelah mendapatkan jawabannya, sampaikanlah kepada anak alasan Anda dengan kata-kata yang baik. Ajak anak untuk melihat sudut pandang Anda sebagai orang tua, namun dengan alasan-alasan yang rasional sehingga membuat anak mengerti.

  1. Berikan Persepsi Pacaran “Sehat”

Jika Anda tidak melarang anak untuk berpacaran, ajaklah anak untuk memandang pacaran sebagai kegiatan yang “sehat” dan tidak merugikan mereka. 

Sampaikan kepada anak bahwa pacaran yang sehat harus memiliki beberapa faktor seperti rasa hormat, saling menghargai, kepercayaan satu sama lain, komunikasi, dukungan, kejujuran, dan saling mengerti. 

  1. Jelaskan Perbedaan Antara Nafsu, Obsesi, dan Cinta

Selain cinta, beberapa faktor yang melatarbelakangi remaja pacaran lainnya adalah seperti nafsu dan obsesi. Orang tua harus mampu menjelaskan kepada anak tentang perbedaan ketiganya. Apabila yang melatarbelakangi hubungan anak dengan pasangannya adalah nafsu atau obsesi, maka nasihatilah anak untuk menghindari hubungan tersebut,

  1. Mulai dengan Pertanyaan kepada Anak

Daripada memarahi anak ketika berpacaran, Anda dapat mendekatkan diri terlebih dahulu dengan bertanya beberapa hal. Melalui bertanya, Anda dapat menemukan apa yang anak pikirkan dan mengetahui mengapa anak tertarik kepada pasangannya. Pertanyaan yang dapat Anda ajukan adalah seperti awal perkenalan, hal yang membuat anak menyukai pasangannya, hal yang suka dilakukan bersama, dan hal yang disuka dari hubungannya.

Pastikan Anda ada di posisi netral ketika merespons jawaban anak. Jangan buat anak merasa tertekan karena dapat menyebabkan anak tidak mau terbuka lagi dengan orang tua.

  1. Undang Pasangan Anak untuk Bertemu

Kenali pacar baru anak dengan mengundangnya untuk bertemu. Anda dapat mengajaknya ke rumah dan makan bersama kemudian lihat interaksi anak dengan pacarnya. Jangan berikan respons yang ketus atau terlihat tidak senang, siapa tahu Anda bisa melihat hal lain yang membuat anak Anda mau berpacaran dengannya.

  1. Hargai Privasi Anak

Selain komunikasi, menghargai privasi anak akan membuat hubungan Anda dengannya tetap bertahan baik. Biarkan anak mengambil keputusan sendiri untuk bisa belajar dari fase ini.

Jika Anda mencoba untuk mengganggu privasi anak, bisa jadi anak akan merasa risih, tidak mau terbuka, dan tidak mempercayai Anda. Apabila Anda Khawatir, maka tetap berikan pengawasan dalam hal yang wajar.

  1. Sampaikan Nasehat dengan Kata-kata Bijak

Jika Anda mulai melihat hal-hal yang kurang baik dan ingin mengkritik anak dengan hubungannya, pilihlah kata-kata yang bijak. Sampaikan nasehat dengan baik dan respek tanpa mengintimidasi anak. 

Ketika anak mencoba untuk membela diri, tanyalah perasaannya ketika berada di posisi yang Anda tidak sukai. Hal ini dapat membuat anak mengetahui kesalahannya.

  1. Diskusikan tentang Seks

Hal lain yang dapat bersinggungan dengan remaja pacaran adalah mengeksplorasi dunia seks. Sebagai orang tua, jadikan pembahasan ini sebagai diskusi dan dengarkan pendapat anak terlebih dahulu mengenai seks.

Setelah Anda mendengarkannya, sampaikan apa saja yang belum diketahui anak dan luruskan jika ada pandangannya yang tidak sesuai.

Pembahasan ini memang terkesan kurang nyaman untuk menjadi topik obrolan. Namun dengan membiasakannya, pendidikan seksual akan membuat anak tahu mana yang benar dan yang salah tentang dunia seks.

  1. Berikan Batasan dan Dukungan

Membolehkan anak berpacaran bukan berarti Anda dapat melepaskannya begitu saja. Berikan aturan yang tegas agar anak tidak keluar jalur. Beberapa aturan yang dapat diterapkan adalah seperti tidak boleh pulang terlalu malam, menetapkan batasan teman yang boleh pergi bersama, serta ketentuan lain yang mungkin Anda miliki.

Setelah menyampaikan beberapa batasan, ajak anak berdiskusi tentang aturan yang telah dibuat agar Anda juga dapat mengetahui pandangan anak pada batasan tersebut.

Selain batasan, Anda juga dapat memberi dukungan kepada anak seperti mengantarkan anak bertemu pasangannya hingga menjadi tempat curhat anak. Dengan begini, Anda juga dapat mengontrol dan mengetahui hal-hal apa saja yang terjadi pada hubungan anak dengan pacarnya.

  1. Jangan Berhenti Komunikasi dengan Anak

Ketika terjadi perselisihan, jangan pernah hentikan komunikasi Anda dengan anak. Komunikasi adalah hal yang penting dan dapat menghindari anak dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Pada saat berkomunikasi, Anda juga perlu menambahkan rasa hormat dan tidak menggurui. Melalui komunikasi yang baik, anak akan percaya dan berusaha untuk tidak mengecewakan orang tuanya.

Fenomena remaja pacaran adalah hal yang tidak bisa dihindari saat anak mulai tumbuh. Remaja adalah usia disaat orang akan menjadi penasaran dengan berbagai hal dan ingin mencobanya. Pastikan Anda menjadi tempat curhat anak saat berpacaran agar Anda dapat mengontrol anak tanpa mengintimidasinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *