Linchen Planus: Diagnosis dan Cara Mengatasinya

Linchen planus merupakan ruam kulit hasil respon sistem imun tubuh. Penyebabnya diperkirakan karena infeksi virus, alergi, stres, atau faktor keturunan. Beberapa kasus menunjukkan bahwa linchen planus beruhubungan dengan kondisi autoimun. Meskipun tidak menular, munculnya ruam mengakibatkan rasa gatal dan tampilan yang mengganggu. Bahkan perkembangan linchen planus berisiko menyebabkan karsinoma. 

Diagnosis linchen planus

Dokter akan menegakkan diagnosis berdasarkan tanda dan gejala yang dialami, riwayat kesehatan fisik, dan hasil tes laboratorium jika perlu. Berikut ini beberapa jenis tes laboratorium yang dilakukan:

  • Biopsi

Sampel diambil dari lesi atau luka yang terdapat di mulut. Kemudian diperiksa menggunakan mikroskop untuk mengetahui adanya linchen planus. Terdapat mikroskop khusus yang mampu mengidentifikasi lebih detail, yaitu jenis protein pada lesi yang berhubungan dengan linchen planus oral. 

  • Tes hepatitis C

Hepatitis C berisiko menjadi pemicu linchen planus. Cara mendeteksi hepatitis C yaitu melalui tes darah. 

  • Tes alergi

Dokter akan menyarankan Anda untuk menemui dokter spesialis penyakit dalam (alergi dan imunologi) atau dokter spesialis kulit dan kelamin. Alergi merupakan salah satu penyebab terjadinya linchen planus. 

  • Kultur

Sampel dari mulut diambil dengan cara tes usap. Sampel diperiksa melalui cara kultur di bawah mikroskop untuk mengetahui adanya infeksi virus, bakteri, atau jamur. 

Apabila dokter telah menegakkan diagnosis dan Anda terbukti positif menderita linchen planus, maka Anda akan diberikan serangkaian perawatan dan pengobatan. 

Bagaimana cara pengobatannya?

Pada dasarnya, linchen planus bisa hilang dengan sendirinya dalam beberapa bulan hingga tahun. Akan tetapi, rasa gatal, nyeri, serta tampilannya yang mengganggu menimbulkan rasa tidak nyaman. Berikut ini beberapa perawatan dan pengobatan yang diberikan kepada pasien linchen planus:

  • Kortikosteroid

Obat ini merupakan pilihan pertama dalam bentuk krim atau salep oles. Tujuannya yaitu agar lesi tidak semakin luas dan parah. Apabila tidak membaik, dokter memberikan pil atau suntikan kortikosteroid.

  • Obat oral anti infeksi

Obat anti infeksi yang digunakan berupa anti malaria, seperti hydroxychloroquine dan antibiotik metronidazole. 

  • Pengobatan berkaitan dengan sistem imun

Tanda dan gejala parah memerlukan pengobatan yang menekan atau mengubah respon imun tubuh. Obat-obatan tersebut antara lain azathiprine, mycophenolate, cyclosporine, atau methotrexate. 

  • Antihistamin

Obat ini dikonsumsi secara oral guna mengurangi rasa gatal. Terdapat antihistamin yang disediakan di apotek tanpa resep dokter, ada pula yang harus menggunakan resep dokter. 

  • Terapi cahaya

Fototerapi atau terapi cahaya mampu menyamarkan lesi planus linchen di kulit. Jenis terapi cahaya paling umum menggunakan UV B yang hanya menembus lapisan kulit bagian atas atau epidermis. 

  • Retinoid

Apabila tubu tidak merespon pengunaan kortikosteroid atau terapi cahaya, dokter akan meresepkan retinoid oral, seperti acitretin. Akan tetapi, obat ini tidak disarankan bagi wanita hamil, wanita yang berencana hamil, dan menyusui. 

Cara perawatan di rumah

Jika linchen planus berada di kulit, Anda dapat mencuci ruam menggunakan air hangat serta hindari pemakaian sabun. Cuci rambut di wastafel atau bak mandi agar sampo tidak mengenai kulit. Pelembab juga membantu merawat kulit yang ruam. 

Sikat gigi Anda secara rutin apabila ruam terdapat di area mulut. Hal ini berguna untuk menjaga kesehatan gigi, gusi, dan rongga mulut. Hindari makanan yang terlalu asin, pedas, atau asam karena membuat luka semakin nyeri. Jangan konsumsi alkohol dan hindari penggunaan obat kumur yang mengandung alkohol

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *