Seberapa Aman Ikan Tilapia Dikonsumsi Anak & Ibu Hamil?

Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Indonesia, Susi Pudjiastuti, terkenal dengan jargonnya yang ikonik; “makan ikan jika tidak ingin saya tenggelamkan.” Susi tahu betul jika banyak sekali manfaat yang bisa didapat setelah rutin mengonsumsi ikan. Ada banyak spesies ikan komersil yang bisa kita pilih, ikan tilapia hanyalah salah satunya.

Ikan tilapia mungkin terdengar asing di telinga kita. Namun, jika disebut ikan nila, hampir sebagian dari masyarakat Indonesia mengenal dan familiar dengannya. Perlu diketahui jika ikan tilapia adalah nama umum untuk jenis ikan dari famili Cichlidae. Ada ratusan ragam ikan yang masuk ke dalam kelompok ini dan ikan nila adalah salah satunya.

Hampir seluruh ikan tilapia hidup di air tawar, mulai dari aliran-aliran, kubangan, danau, hingga sungai dangkal. Meskipun ada, tetapi amat jarang kelompok ini ditemui di air payau. Sementara beberapa spesies, termasuk ikan nila, sudah sejak lama dibudidayakan di kolam-kolam atau keramba apung karena nilai ekonomisnya yang tinggi.

Mengonsumsi ikan, seperti halnya bahan konsumsi lain, adalah soal preferensi atau kecenderungan seseorang dalam memilih yang amat dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti selera, alergi tertentu, hingga budaya. Dalam kasus ikan, banyak orang tidak suka mengonsumsi ikan air tawar karena bau tanah, hidup di lingkungan yang jorok atau kotor, dan sebagainya.

Apalagi jika kita mengkhawatirkan berbagai macam kemungkinan bahaya yang dibawa ikan tilapia karena lingkungan hidupnya tidak sehat, semisal karsiogenik dan merkuri. Dua senyawa kimia itu diyakini betul bisa memberi dampak buruk bagi manusia, utamanya kelompok anak-anak, ibu hamil, serta ibu menyusui.

Hal itu memang tak dapat dimungkiri dan jika dibandingkan dengan ikan air asin atau laut, dari segi itu ikan air tawar, termasuk juga ikan tilapia, kalah telak. Namun, jika ditilik dari segi nilai gizi, manfaat yang bisa didapat, hingga medis, kondisi ini masih bisa diperdebatkan.

Sudah banyak ahli mengamini bahwa ikan tilapia bisa memberi banyak manfaat bagi tubuh manusia. Itu didukung dari kandungan nutrisi yang ada di dalam dagingnya. Sedikitnya, ikan tilapia mengandung protein, omega 6 dan 3, karbohidrat, vitamin, dan mineral. Serta, per 100 gram ikan ini memiliki kalori sebanyak 110 kkal.

Persentase AKG pada ikan ini yaitu, 34% protein, 1% omega 6 dan 3, 2% karbohidrat. Serta, vitamin yang dimilikinya yaitu vitamin B12, niasin (vitamin B-3), vitamin B6, dan asam pantotenat (vitamin B-5), dan mineral seperti selenium, fosfor, kalium.

Lantas, apa jawaban dari pertanyaan yang diusung di awal; seberapa aman ikan tilapia dikonsumsi oleh anak-anak, ibu hamil, dan menyusui? Ya. Jawabannya amat tergantung dengan bagaimana cara ikan itu hidup dengan segala faktor yang mendukungnya.

Karsiogenik banyak diakibatkan oleh kontaminan-kontaminan, bukan dari ikannya sendiri. Ketika ikan dibudidayakan dengan cara yang tidak bersih, seperti menggunakan air kotor, atau tempatnya kotor, serta banyak sampah menumpuk di dekatnya, itu yang berbahaya untuk ikan, yang tentu saja berbahaya juga bagi anak-anak, ibu hamil, dan ibu menyusui, termasuk bagi manusia secara umum.

Sebenarnya, ikan ini amat baik dikonsumsi oleh anak-anak. Bahkan, sejak pertama kali anak-anak mulai mengenal makanan lain selain ASI. Seperti halnya jenis ikan lain, ikan tilapia juga merupakan sumber omega 3 yang baik untuk pertumbuhan otak anak di masa perkembangan. Untuk porsi pemberiannya, disesuaikan dengan kebutuhan si kecil, serta harus berdampingan dengan makanan lain, karena anak butuh asupan gizi seimbang.

Adapun bagi ibu hamil dan menyusui, ikan tilapia sangat bagus dikonsumsi karena mampu membantu memberikan asupan gizi untuk ibu dan bayi yang dikandung. Konsumsi ikan tilapia bisa membantu perkembangan dan pertumbuhan janin di dalam kandungan. Yang pasti harus benar-benar diperhatikan betul ikan yang akan kita konsumsi tersebut agar manfaatnya dapat dirasakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *