Tagged: bayi & menyusui

Kapankah Pemberian Air Putih untuk Bayi?

Kapankah Pemberian Air Putih untuk Bayi?

Pemberian air putih untuk bayi di bawah usia 6 bulan sebaiknya tidak dilakukan karena lebih banyak risikonya ketimbang manfaatnya. Lagi pula, kebutuhan nutrisi dan cairan tubuh Si Kecil sebetulnya sudah tercukupi dengan pemberian ASI atau susu formula.

Berbagai institusi kesehatan menyarankan agar bayi sebaiknya diberikan asupan ASI eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupannya. Yang dimaksud dengan ASI eksklusif adalah bayi hanya diberikan ASI sebagai satu-satunya asupan nutrisi dan tidak mengonsumsi makanan atau minuman tambahan lain, termasuk air putih dan jus.

Ada beberapa hal yang menjadi alasan kenapa air putih untuk bayi tidak disarankan diberikan di bawah usia 6 bulan. Nah, berikut ini hal yang menjadi alasan tidak disarankan memberikan air putih untuk bayi.

  1. Berkurangnya minat menyusu

Air putih untuk bayi di bawah 6 bulan berisiko sebabkan berat badan turun. Air cenderung memberikan kalori kosong. Lalu, perut pun menjadi kembung akibat air. Efeknya, bayi tidak mau menyusu. Hal ini dikhawatirkan bisa memicu bayi kekurangan gizi, penurunan berat badan bayi, dan kenaikan kadar bilirubin.

  1. Adanya potensi keracunan air

Hiponatremia akibat pemberian air putih untuk bayi menimbulkan bayi menangis terus. Air yang diberikan pada bayi baru lahir bisa menyebabkan keracunan air. Hal ini berimbas pada encernya nutrisi lain dalam tubuhnya. Menurut penelitian yang diterbitkan pada jurnal Annals of Pediatric Endocrinology and Metabolism, kelebihan mengonsumsi air putih pada bayi menyebabkan hiponatremia. Inilah gangguan yang terjadi akibat berkurangnya kadar natrium secara drastis akibat asupan air putih melebihi kemampuan ginjal untuk membuang air. Akibatnya, menurut riset yang dipublikasikan American Journal of Kidney Diseases, bayi pun akan mengalami muntah, lemas, perubahan perilaku, hingga bayi mudah menangis dan marah.

  1. Diare

Air putih untuk bayi yang tidak steril sebabkan diare. Apabila air putih diberikan untuk melarutkan susu formula atau larutan oralit, sebaiknya air harus direbus dengan suhu di atas 80 derajat Celcius. Air yang tidak steril mampu menyebabkan bayi diare. Jika mengonsumsi air mineral kemasan, pastikan natrium yang terkandung tidak melebihi 200 mg per liter. Selain itu, pastikan juga kadar sulfat pada air mineral tidak lebih dari 250 mg per liter.

Kapan bayi perlu diberi air putih?

Meski begitu ada beberapa kondisi yang memperbolehkan bayi untuk diberikan air putih. Bayi baru diperbolehkan untuk diberikan air putih dalam situasi dan kondisi sebagai berikut ini. 

  • Dehidrasi

Jika Si Kecil mengalami dehidrasi, misalnya karena diare, demam tinggi, atau muntah-muntah, dokter biasanya akan menyarankan untuk memberikan minuman elektrolit khusus bayi. Tujuannya adalah untuk mengganti kembali cairan dan elektrolit yang hilang dari tubuh Si Kecil.

  • Kehausan

Setelah berusia 6 bulan, bayi boleh diberi air putih saat ia haus. Namun, dianjurkan untuk tidak memberikannya lebih dari 8 sendok makan atau setengah gelas air putih per hari. Tetap utamakan ASI sebagai asupan nutrisi utama meski bayi sudah berusia di atas enam bulan.

  • Sudah dapat mengonsumsi MPASI

Bayi boleh minum air putih setelah ia berusia 6 bulan dan mulai mengonsumsi makanan padat (MPASI). Namun, sebagian dokter mungkin menyarankan untuk menunda pemberian air putih pada bayi hingga usia 1 tahun.

Jadi, berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan jika pemberian air putih untuk bayi sebaiknya dilakukan saat bayi sudah berusia di atas 6 bulan. Jika Anda merasa si kecil membutuhkan air putih walau usianya belum berusia 6 bulan atau lebih, sebaiknya konsultasikan kondisi tersebut dengan dokter. Anda bisa berkonsultasi dengan dokter anak melalui SehatQ.

Mitos Tentang SIDS yang Sebaiknya Jangan Dipercaya

Mitos Tentang SIDS yang Sebaiknya Jangan Dipercaya

SIDS atau yang biasa disebut sindrom kematian mendadak bayi adalah penyakit langka yang sering menyerang bayi di bawah usia satu tahun dan menyebabkan nyawa melayang. 

Hingga saat ini, penyebab pasti dari penyakit langka ini belum diketahui. Namun, beberapa ahli sepakat bahwa sindrom ini bisa saja muncul karena kebiasaan-kebiasaan yang kurang sehat seperti ibu yang merokok serta posisi tidur bayi yang tidak tepat. 

Mengingat penyakit ini cukup langka dan penyebabnya belum pasti hingga sekarang, muncul juga beberapa mitos di luaran yang sebaiknya jangan kamu percaya mentah-mentah, ya. Berikut ini beberapa di antaranya. 

Mitos penyakit SIDS

Berikut ini beberapa mitos dari penyakit SIDS yang sebaiknya jangan kamu telan mentah-mentah, ya karena belum terbukti kebenarannya.

  • Vaksin dan imunisasi bisa menyebabkan SIDS

Tak sedikit orang tua yang mempercayai bahwa vaksin, imunisasi, atau penggunaan obat bisa menyebabkan kematian bayi secara mendadak. Hal ini hanya MITOS, ya. Jadi jangan dipercaya. 

Faktanya, vaksin dan imunisasi bisa meningkatkan kekebalan tubuh pada bayi, sehingga bayi tidak mudah terpapar virus, bakteri, dan kuman. 

  • Boks bayi bisa menyebabkan SIDS

SIDS umumnya memang terjadi saat bayi sedang tertidur, namun penyebab utamanya bukan disebabkan karena bayi tidur di dalam boks. 

Faktanya, boks tidur bayi bukan penyebab utama munculnya SIDS, melainkan lingkungan tidurnya seperti alas kasur yang terlalu empuk, banyaknya mainan yang ada pada kasur. 

  • Tidur terlentang menyebabkan SIDS

Beberapa orangtua juga mempercayai bahwa tidur terlentang bisa membuat anak jadi tersedak sehingga bisa meningkatkan risiko kematian mendadak.

Faktanya, tidur dengan posisi tengkurap dan miring yang bisa meningkatkan risiko kematian mendadak. Sebab, posisi tidur yang tengkurap dan miring bisa mengganggu saluran pernapasan pada bayi. 

Itu dia beberapa mitos yang sebaiknya jangan kamu percaya, ya. 

Penyebab SIDS atau Sudden Infant Death Syndrome

Meskipun penyebab SIDS hingga kini belum diketahui secara pasti, namun beberapa ahli memberikan rangkuman beberapa kemungkinan-kemungkinan yang bisa menyebabkan SIDS pada bayi. 

  • Tidur pada area yang empuk, sehingga saluran pernapasannya tertutup
  • Ibu mengonsumsi alkohol
  • Terjadi infeksi pernapasan
  • Bayi lahir prematur atau bayi lahir kembar
  • Ibu tidak melakukan kontrol kehamilan secara rutin
  • Sering meletakkan bayi dalam posisi tengkurap atau miring sebelum usianya mencapai 1 tahun
  • Bayi lahir dengan berat badan rendah
  • Ibu memiliki kebiasaan merokok saat hamil atau merupakan perokok pasif
  • Bayi mengalami kedinginan atau kepanasan
  • Bayi yang berasal dari Afrika asli atau Amerika asli
  • Bayi tidur bersama dengan orangtua dan hewan peliharaan

Beberapa kejadian dan kebiasaan di atas dipercaya bisa meningkatkan risiko terjadinya SIDS pada bayi. Jika kamu masih menidurkan bayi dalam posisi tengkurap atau miring sebaiknya segera hentikan, ya. 

Cara mencegah SIDS

Berikut ini beberapa cara untuk mencegah terjadinya SIDS pada bayi yang bisa kamu lakukan sejak hamil. 

  • Hindari kebiasaan buruk seperti merokok, minum alkohol saat hamil. Sebaiknya hindari juga asap rokok saat sedang keluar rumah. Sebagai upaya perlindungan, kamu bisa menggunakan masker yang bisa melindungi dari asap rokok. 
  • Rutin melakukan cek kehamilan.
  • Ketika bayi lahir, sebaiknya pisah tempat tidur dengan bayi. Kamu bisa menaruh bayi di box bayi yang dekat dengan tempat tidurmu. 
  • Jauhkan barang seperti mainan bayi, bantal, selimut, dan guling saat bayi akan tidur.
  • Jangan berikan pakaian yang terlalu ketat atau panas pada bayi.
  • Berikan ASI eksklusif agar kekebalan tubuhnya naik.
  • Hindari menggunakan kasur yang terlalu empuk, karena bisa memutus saluran pernapasannya. Sebaiknya berikan alas yang keras seperti matras untuk bayi. 
  • Posisikan bayi tidur terlentang, dan hindari posisi tengkurap atau miring ke samping.

Alasan Mengapa Perut Bayi Bunyi Saat Sedang Menyusu

Alasan Mengapa Perut Bayi Bunyi Saat Sedang Menyusu

Umumnya, orang-orang mengira bahwa jika perut bayi berbunyi maka itu menandakan ia sedang merasa lapar. Namun, apa yang terjadi jika perut bayi bunyi saat ia sedang menyusu? 

Dalam kondisi yang normal, saat menyusu perut bayi akan membesar dan keras karena penuh dengan air susu. Namun, pada beberapa bayi justru akan terdapat bunyi seperti sedang kelaparan.

Tidak jarang orang tua menjadi khawatir atau bertanya-tanya karena hal ini. Untuk mengatasinya, Anda perlu mengetahui terlebih dahulu penyebab perut bayi bunyi saat sedang menyusu.

Penyebab Perut Bayi Bunyi Saat Menyusui

Perut yang bunyi disaat sedang menyusu biasanya terjadi pada bayi baru lahir hingga usia 3 bulan. Seringkali hal ini disebabkan karena saluran pencernaan bayi belum berkembang sempurna dan membuat aktivitasnya juga semakin meningkat.

Beberapa hal lain yang dapat menjadi penyebab perut bayi saat menyusui, diantaranya:

  1. Bunyi peristaltik usus

Bunyi pada perut merupakan bunyi peristalik usus yang diakibatkan karena pergerakan makanan dan udara di dalam usus bayi. Udara yang ada pada perut bayi sulit untuk dikeluarkan dan akhirnya juga menyebabkan kembung. 

  1. Perbedaan dinding lapisan usus pada bayi

Selanjutnya, terdapat perbedaan dinding lapisan usus antara bayi dan orang dewasa. Pada bayi, lapisan usus tersebut masih lebih tipis sehingga menyebabkan apa saja yang masuk ke dalam saluran pencernaan bayi menghasilkan bunyi.

  1. Perut kembung

Perut kembung terjadi karena banyaknya udara di dalam perut bayi yang kemudian bisa menghasilkan bunyi saat menyusu.

Udara yang terjebak pada perut bayi dapat disebabkan karena terlalu cepat dan bersemangat saat menyusu atau diakibatkan posisi menyusu yang salah.

  1. Mengonsumsi makanan tertentu

Ada beberapa jenis makanan yang dapat menyebabkan gas berkumpul di dalam perut bayi yang kemudian menghasilkan bunyi. Beberapa jenis makanan tersebut, adalah:

  • Tomat
  • Jeruk
  • Kedelai
  • Olahan susu
  • Kubis
  • Brokoli
  • Kembang kol

Cara Mengatasi Perut Bayi Bunyi Saat Menyusu

Jika perut bayi berbunyi saat sedang menyusu, Anda dapat memposisikan bayi tegak atau mengangkat bayi sekitar 30 derajat. Lakukan hal ini selama beberapa menit untuk meredakan ketidaknyamanan si kecil karena gas di dalam perut dan mencegah asam naik kembali ke tenggorokan.

Jika bayi masih terlihat tidak nyaman, Anda juga dapat memandikan bayi atau berendam dengan air hangat sehingga membuatnya merasa lebih nyaman.

Kondisi Tertentu yang Membuat Perut Bayi Bunyi

Bunyi pada perut bayi sebenarnya adalah hal yang normal. Hal ini adalah tanda kalau sistem pencernaannya sedang bekerja dengan baik. Anda tidak perlu khawatir berlebihan jika si kecil mengalami hal ini. Namun, jika perut bayi berbunyi disertai dengan beberapa gejala lain, Anda dapat mewaspadai hal tersebut. 

Beberapa kondisi yang ditandai dengan perut bayi bunyi adalah:

  • Volvulus

Volvulus merupakan keadaan dimana terpuntirnya usus bayi yang ditandai dengan perut kembung dan bunyi. Selain itu, bayi juga akan muntah berwarna hijau, tidak buang air besar, dan tidak buang angin.

  • Invaginasi

Invaginasi terjadi ketika usus bagian atas terlipat dan masuk ke bagian bawah. Selain perut bunyi, kondisi ini juga ditandai dengan kembung dan buang air besar yang disertai lendir atau darah.

  • Atresia

Atresia adalah kondisi dimana tidak terbentuknya segmen usus pada bayi sejak lahir. Kondisi ini juga cenderung membuat perut bayi berbunyi.

Jika perut bayi bunyi disertai dengan gejala-gejala lainnya saat sedang menyusu, Anda dapat berkonsultasi dengan dokter. Mengetahui penyebabnya secara pasti juga dapat membantu Anda dalam melakukan penanganan yang tepat.

Kenali Berbagai Jenis Bayi Demam dan Indikasi Penyakit

Kenali Berbagai Jenis Bayi Demam dan Indikasi Penyakit

Bayi demam bisa menjadi salah satu gejala paling menakutkan bagi orang tua, terutama bila demam terlalu tinggi dan menyerang bayi baru lahir berusia beberapa minggu. Bayi demam dianggap sebagai salah gejala yang mengindikasi beberapa penyakit. Demam menandakan tubuh sedang melawan penyakit dan sistem kekebalan sedang bekerja. 

Umumnya bayi demam, bisa menandakan mereka terkena flu atau infeksi virus lainnya seperti pneumonia, infeksi saluran kemih, infeksi telinga, atau infeksi yang lebih serius seperti infeksi bakteri darah atau meningitis dapat menyebabkan demam. Oleh karena itu, penting untuk Anda mengetahui perbedaan jenis bayi demam berdasarkan suhu tubuh dan gejala yang timbul seperti berikut.

Suhu tubuh

Suhu yang benar-benar menunjukkan bayi demam jika mengalami beberapa tanda

  • Suhu rektal, telinga atau dahi: 38,0°C atau lebih tinggi.
  • Suhu di bawah ketiak: 37,2°C atau lebih tinggi.

Penyebab bayi demam

Hampir semua demam disebabkan oleh infeksi baru. Virus menyebabkan infeksi 10 kali lebih banyak daripada bakteri.

Infeksi Virus

Pilek, flu, dan infeksi virus lainnya adalah penyebab paling umum. Bayi demam mungkin akan terjadi selama 24 jam pertama. Gejala awal virus (pilek, batuk, diare) sering tertunda. Roseola adalah contoh paling ekstrim. Bayi demam mungkin paling lama akan terjadi selama 2 atau 3 hari, kemudian muncul ruam.

Infeksi Bakteri

Infeksi kandung kemih adalah penyebab paling umum bayi demam, terutama pada anak perempuan. Radang tenggorokan juga merupakan penyebab umum demam yang tidak bisa dijelaskan. 

Vaksin

Bayi demam juga bisa terjadi karena vaksin. Demam dengan sebagian besar vaksin dimulai dalam 12 jam dan berlangsung 2 hingga 3 hari. Hal ini normal dan tidak berbahaya, karena menandakan bahwa vaksin sedang bekerja.

Bayi demam saat baru lahir yang serius 

Demam yang terjadi selama 3 bulan pertama kehidupan bisa menjadi serius. Semua bayi demam perlu diperiksa sesegera mungkin. Demam mungkin disebabkan oleh sepsis (infeksi aliran darah). Infeksi bakteri pada kelompok usia ini bisa memburuk dengan cepat. Mereka membutuhkan perawatan cepat.

Meningitis

Infeksi bakteri pada membran yang menutupi sumsum tulang belakang dan otak. Gejala utamanya adalah leher kaku, sakit kepala, dan kebingungan. Bayi yang terkena meningitis biasanya akan merasa lesu atau sangat sensitif sehingga sulit untuk menghibur mereka. Jika tidak ditangani secara dini, bayi bisa mengalami kerusakan otak.

Perubahan suhu yang ekstrim

Bayi demam ringan dapat terjadi selama gelombang panas atau karena adanya perubahan suhu ekstrim. Suhu menjadi normal dalam beberapa jam setelah pindah ke tempat yang lebih dingin atau hangat. Demam cepat hilang dengan istirahat dan minum lebih banyak cairan.

Cara merawat bayi demam

American Academy of Pediatrics merekomendasikan bahwa mengenai tanda-tanda penyakit dapat membuat bayi merasa nyaman daripada mengobati demam itu sendiri. Pantau tingkat aktivitas bayi dan kenyamanan secara keseluruhan. Bayi demam namun terlihat bahagia dan nyaman mungkin tidak membutuhkan perawatan.

Pastikan bayi tetap terhidrasi dengan baik. Bayi demam meningkatkan risiko dehidrasi, sehingga mereka memerlukan minum lebih banyak air. Dalam beberapa kasus, perawatan kesehatan mungkin merekomendasikan penggunaan minuman elektrolit untuk mencegah dehidrasi.

Pantau bayi dari tanda-tanda dehidrasi seperti tidak buang air kecil sesering biasanya, mata cekung, bibir pecah-pecah, atau kulit yang tampak sangat kering atau pucat. Hindari membangunkan bayi yang sedang tidur untuk memberinya obat anti demam.

Bayi Tidur Miring dan Pemicu Kematian Mendadak

Bayi Tidur Miring dan Pemicu Kematian Mendadak

Sudden infant death syndrome (SIDS) atau kematian mendadak pada bayi merupakan kasus serius yang sebaiknya Anda cegah. Salah satu hal yang sering dikaitkan dengan kematian mendadak bayi adalah posisi tidur. 

Dari beragam posisi yang disebut-sebut aman atau berbahaya, bayi tidur miring kerap mengalami kontroversi. Di satu sisi, posisi tidur ini dinilai lebih aman dan dianggap bisa mencegah kematian mendadak pada bayi. Di sisi lain, posisi tidur miring justru disebut-sebut sebagai salah satu penyebab kuat kematian mendadak bayi. 

Jadi sebenarnya, apa saja penyebab kematian mendadak pada bayi? Berikut ini adalah faktor-faktor pemicunya yang mesti menjadi perhatian Anda. 

Kecacatan Otak 

Beberapa bayi terlahir dengan masalah yang membuat mereka lebih mungkin meninggal karena SIDS atau kematian mendadak. Dari berbagai masalah pada tubuh bayi, masalah cacat otak sehingga bayi kesulitan mengontrol pernapasan untuk bekerja dengan baik menjadi faktor risiko kuat terkait kematian mendadak.

Berat Badan Rendah 

Bayi prematur cenderung lebih mudah mengalami kematian mendadak. Ini dikarenakan bayi prematur kerap memiliki berat badan rendah. Yang dimaksud berat badan bayi rendah sendiri adalah berat badan lahir yang kurang dari 2.500 gram. Berat badan yang rendah pada bayi baru lahir ternyata berpengaruh ke kemampuan dan kematangan kendali otak bayi. Bayi dengan berat badan cenderung memiliki kendali yang kurang untuk pernapasan dan detak jantung sehingga bisa memicu kematian mendadak pada bayi. 

Posisi Tidur 

Posisi tidur ternyata berpengaruh pada risiko kematian mendadak. Bayi tidur miring atau bahkan tidur terkurap memiliki risiko mengalami kematian mendadak yang lebih besar daripada bayi yang kerap tidur dengan telentang. Pasalnya saat tidur tengkurap dan miring, saluran pernapasan bayi menjadi lebih sulit dan tertutup. Posisi tidur bayi duduk pun tidak direkomendasikan karena pada saat itu, ada kemungkinan jalur napas tertutup saat kepala bayi menunduk. 

Tempat Tidur Terlalu Empuk 

Kondisi tempat tidur juga berpengaruh ke keselamatan bayi. Coba cek tempat tidur bayi Anda, jika terlalu empuk, segera gantilah kasurnya. Pasalnya, kasur yang empuk akan membuat bayi mudah terguling ketika tertidur sehingga posisinya menjadi tengkurap dan sulit untuk bernapas. 

Tidur dengan Orang Tua 

Sebaiknya, Anda tidak tidur bersama dengan anak dalam satu kasur. Berbagi tempat tidur hanya akan meningkatkan risiko kematian mendadak pada bayi. Anda tidak tahu kapan Anda benar-benar merasa lelah dan terlelap hingga akhirnya menindih bayi dan menyebabkan kematiannya. Tidak ingin penyesalan seperti itu datang, bukan? Jadi sebaiknya, taruh bayi di ranjangnya sendiri, walaupun memang masih satu kamar dengan Anda. 

Suhu Ruangan Terlalu Tinggi 

Suhu ideal untuk bayi adalah berkisar 22—25 derajat Celsius. Kurang daripada itu, bayi bisa mengalami risiko hipotermia. Sementara itu, jika suhu ruangan terlalu tinggi, bayi bisa mengalami kepanasan dan berisiko meningkatkan kematian mendadak. 

Kebiasaan Ibu Semasa Hamil 

Beberapa kebiasaan tertentu saat ibu mengandung bayi ternyata berpengaruh ke risiko kematian mendadak. Jika selama mengandung ibu cenderung merokok dan mengonsumsi alkohol, risiko SIDS akan semakin besar. 

Konsumsi Susu Formula 

Sebisa mungkin, susuilah anak Anda dengan air susu ibu (ASI). Pasalnya, pemberian susu formula pada anak cenderung dapat meningkatkan risiko kematian pada si kecil. Sementara itu, anak dengan ASI eksklusif bisa memiliki daya tahan lebih kuat sekaligus mengurangi risiko kematian mendadak. 

*** 

Bayi tidur miring memang merupakan salah satu faktor penyebab kematian mendadak. Namun, Anda bisa membiarkan bayi tidur miring apabila usianya sudah mencapai satu tahun.

Umur Berapa Bayi Bisa Duduk Secara Mandiri? Lakukan Hal Ini untuk Stimulasinya!

Umur Berapa Bayi Bisa Duduk Secara Mandiri? Lakukan Hal Ini untuk Stimulasinya!

Banyak perkembangan penting pada bayi yang terjadi dalam satu tahun pertamanya. Salah satu hal yang sering dipertanyakan oleh orang tua adalah umur berapa bayi bisa duduk. Perkembangan setiap bayi pun berbeda-beda.

Umur berapa bayi bisa duduk dipengaruhi oleh kemampuan motorik kasarnya, yaitu gerakan yang melibatkan otot-otot besar, seperti otot leher, bahu, perut, punggung, dan pinggang. Selain itu, diperlukan juga kemampuan motorik halus, seperti menyentuh dan menggenggam.

Kecepatan perkembangan tiap bayi tidak sama, umur bayi bisa duduk juga dapat berbeda-beda. Namun biasanya, bayi mulai bisa duduk di usia 4 bulan. Tahapan perkembangan melihat bayi bisa duduk secara garis besar terbagi menjadi dua, yaitu bayi belajar untuk duduk dan bayi mulai bisa duduk.

Bayi Belajar untuk Duduk

Si Kecil mulai belajar duduk di waktu yang sama ketika dia mulai bisa tengkurap dan mengangkat kepala, yaitu pada usia 3 atau 4 bulan. Mereka akan mulai mencoba untuk duduk dengan memiringkan badan dahulu, kemudian perlahan-lahan belajar menggunakan lengan untuk menopang badannya.

Lalu pada usia 5 atau 6 bulan, otot punggungnya sudah cukup kuat untuk berusaha duduk, meski masih banyak dibantu oleh lengan. Pada usia ini, bayi belum mampu untuk duduk dengan stabil. Namun seiring perkembangan otot punggung dan keseimbangan tubuhnya, posisi duduk bayi akan semakin stabil.

Bayi Mulai Bisa Duduk

Pada tahap awal, bayi hanya bisa duduk selama 1-2 detik, sebelum akhirnya jatuh. Seiring bertambah kuatnya otot-otot penopang tubuh, bayi semakin mampu untuk duduk lebih lama.

Memasuki usia 6-7 bulan, bayi akan mulai mencoba meraih dan menggenggam berbagai benda di sekitarnya. Pancing ia dengan mainan atau benda lain yang mudah diraih, agar bayi dapat belajar menyeimbangkan tubuh dan melatih koordinasi gerakan tubuhnya. Ketika bayi sudah bisa duduk tegak sendiri dan mulai bisa menggenggam, ia bisa diberi makan MPASI dengan cara baby-led weaning.

Setelah bayi mampu duduk dengan stabil, ia akan mulai mencoba posisi baru dengan kaki dan tangannya, untuk belajar merangkak. Menjelang usia 1 tahun, biasanya bayi sudah bisa merangkak dan bergerak aktif.

Anda bisa mulai mempersiapkan stimulasi mulai bayi berusia 4 bulan atau ketika otot lehernya sudah mulai kuat. Meski demikian, Anda tidak perlu memburu anak untuk segera bisa duduk jika memang belum memerlihatkan tanda-tanda kesiapannya. 

Begini cara stimulasi bayi bisa duduk yang bisa Anda lakukan menyesuaikan perkembangan dan kemampuan si kecil.

  1. Pancing dengan mainan

Guna memperkuat otot leher dan lengannya, Anda dapat sering meletakkan bayi dalam posisi telungkup kemudian menarik perhatiannya dengan berbagai mainan. Menarik perhatian bayi dalam posisi telungkup dapat membantu memperkuat otot leher, bahu dan punggung yang diperlukan untuk menstimulasi bayi duduk sendiri.

  1. Dudukkan di kursi

Demi membantu bayi duduk sendiri, Anda juga dapat mulai mendudukkannya di kursi dengan bantuan bantal. Namun, pastikan Anda tidak meninggalkannya sendiri dan jauhkan bayi dari benda-benda yang mungkin membuatnya susah bernapas. Anda juga dapat mendudukkan bayi dalam pangkuan Anda, kemudian membacakannya buku atau mengajaknya memainkan mainan favoritnya dalam posisi duduk.

  1. Perbanyak tummy time

Cara paling aman untuk melatih bayi duduk sendiri adalah dengan membiarkannya berlama-lama tummy time untuk mengeksplorasi lantai. Stimulasi lain yang dapat Anda lakukan ialah dengan mendudukkan bayi di depan cermin. Hal ini akan membuatnya lebih bersemangat untuk bisa duduk sendiri setelah melihat dirinya dalam posisi duduk.

Menghitung umur berapa bayi bisa duduk sendiri sebetulnya tidak ada patokan khusus karena ada bayi yang dapat duduk dengan cepat, dan yang lainnya bisa lebih lambat di satu tahun pertamanya. Jika bayi Anda lahir lebih cepat (prematur), standar umur berapa bayi bisa duduk di atas juga tidak bisa dijadikan pedoman.

Meski demikian, Anda sebaiknya berkonsultasi ke dokter jika bayi belum bisa menegakkan kepala saat usia 4 bulan atau tidak mampu duduk sendiri saat berumur 9 bulan. Dokter mungkin akan merujuk bayi Anda ke klinik tumbuh kembang.

Penting untuk Mengetahui Ciri Bayi Sehat dalam Kandungan

Penting untuk Mengetahui Ciri Bayi Sehat dalam Kandungan

Menjaga kesehatan bayi merupakan hal yang wajib ibu penuhi selama masa kehamilan. Pasalnya hal ini mempengaruhi tumbuh kembang bayi hingga mereka beranjak dewasa. Pemenuhan nutrisi selama masa kehamilan juga penting untuk dilakukan para ibu agar bayi yang terdapat dalam kandungan terus bertumbuh dan berkembang. Bayi sehat dapat dilihat dari bagaimana pola makan dan aktivitas yang dilakukan si ibu selama masa kehamilan.

Selain menjaga pola makan, melakukan pemeriksaan rutin kandungan ke dokter juga menjadi salah satu bentuk menjaga kesehatan anak yang tidak boleh dilewatkan. Pemeriksaan kehamilan secara rutin tiap bulan penting untuk memantau perkembangan janin dan kesehatan ibu selama mengandung, sehingga apabila terdapat gangguan, dapat segera diatasi. 

Meski Anda telah melakukan melakukan berbagai cara untuk menjaga kesehatan janin dalam kandungan, namun apalah gunanya jika kamu tidak mengetahui kondisi kesehatan bayi secara spesifik. Berikut ciri bayi sehat di dalam kandungan yang perlu untuk diketahui oleh calon ibu:

  • Terdapat peningkatan berat badan yang signifikan

Saat memasuki masa kehamilan, jangan kaget apabila kamu terus mengalami peningkatan berat badan. Peningkatan berat badan yang dialami menandakan bahwa janin yang terdapat di dalam kandungan tumbuh dengan sehat.

Idealnya, ibu akan mengalami pertambahan berat badan sebesar 13 hingga 15 kilogram selama masa kehamilan berlangsung. Apabila kamu mengalami hal tersebut, maka kamu dapat meyakini bahwa bayi yang ada di kandungan dalam keadaan sehat. 

Patokan angka tersebut dapat bervariasi, tergantung apakah kamu mengalami kelebihan berat badan sebelum hamil atau tidak. Dalam kasus apa pun, jika kamu mampu mempertahankan angka yang ditentukan dokter, maka dapat dipastikan bahwa janin mengalami pertumbuhan yang sehat.

  • Bayi mengalami pertumbuhan

Bayi yang sehat akan terus mengalami pertumbuhan dari hari ke minggu kemudian hingga memasuki usia kehamilan yang menginjak beberapa bulan. Pada janin yang memasuki usia 5 bulan biasanya memiliki panjang yang dapat mencapai 25 cm. Tentu saja pertumban ini akan bertambah dari hari ke hari hingga usia kandungan menginjak 9 bulan. Biasanya usia kehamilan 9 bulan janin memiliki panjang yang mencapai 50 cm. 

  • Perkembangan perut 

Setiap perempuan yang tengah hamil akan memiliki ukuran serta bentuk perut yang berbeda-beda. Kamu dapat berkonsultasi ke dokter spesialis kandungan mengenai bentuk dan ukuran perut untuk memastikan bagaimana kondisi kesehatan janin. Maka dari itu, penting bagi kamu untuk melakukan konsultasi rutin dengan dokter untuk mengetahui kesehatan bayi.

  • Janin bergerak aktif

Janin dapat dikatakan sehat apabila mengalami pergerakan yang aktif. Biasanya gerakan ini mulai terasa saat kandungan memasuki trimester terakhir kehamilan. Seiring berjalannya waktu, kamu akan merasakan tendangan-tendangan kecil dari sang bayi. Setiap bentuk gerakan di dalam rahim adalah indikasi bahwa bayi dapat menerima jumlah oksigen yang optimal dan nutrisi penting lainnya untuk pertumbuhan si kecil.

  • Detak jantung yang stabil

Detak jantung janin sangat memengaruhi kesehatan calon bayi secara keseluruhan. Secara umum, detak jantung janin berkisar antara 110 dan 160 denyut per menit. Untuk memantau dan mengetahui detak jantung janin, maka kamu dapat melakukannya di mana saja selama usia kandungan sudah memasuki trimester terakhir kehamilan.

  • Perubahan posisi janin 

Pada trimester akhir kehamilan, biasanya kamu akan menyadari penurunan gerakan janin. Hal ini tidak perlu dikhawatirkan, karena itu menandakan adanya perubahan posisi janin dan ini justru menandakan bahwa kehamilan dan janin berada dalam kondisi sehat. Namun, kamu harus waspada bila janin tidak bergerak sama sekali selama beberapa jam.

Itulah beberapa ciri-ciri bayi sehat dalam kandungan yang dapat para calon ibu perhatikan. Lakukan pemeriksaan secara rutin untuk mengetahui tumbuh kembang janin dalam kandungan. Jaga pola makan dan aktivitas untuk menjaga kondisi bayi. Juga jangan lupa mengonsumsi makanan yang banyak mengandung nutrisi untuk memenuhi kebutuhan gizi si kecil.

Apa Itu Asfiksia Neonatorum?

Apa Itu Asfiksia Neonatorum?

Asfiksia neonatorum, atau dikenal juga dengan nama asfiksia pada bayi baru lahir, merupakan sebuah kondisi di mana bayi tidak mendapatkan cukup oksigen sebelum, pada saat, dan setelah persalinan dan dilahirkan. Dalam kasus yang langka, kondisi ini dapat menyebabkan komplikasi yang serius, dan bahkan dapat mengancam nyawa. Perawatan segera sangat diperlukan guna memastikan bahwa bayi mendapatkan cukup oksigen. Artikel ini akan membahas hal-hal yang perlu Anda ketahui seputar asfiksia neonatorum. 

Nama lain dari asfiksia neonatorum adalah asfiksia perinatal dan asfiksia perinatal. Asfiksia neonatorum terjadi ketika bayi tidak mendapatkan cukup asupan oksigen saat dilahirkan, dan berpotensi menyebabkan kesulitan bernapas. Kondisi ini dapat terjadi sebelum, pada saat, dan setelah proses persalinan. Kurang pasokan oksigen ke dalam tubuh dapat menyebabkan level oksigen yang rendah atau penumpukan asam berlebih di dalam darah bayi. Efek ini dapat mengancam nyawa dan membutuhkan perawatan secepatnya.

Dalam kasus yang ringan atau sedang, bayi dapat pulih sepenuhnya. Namun, dalam kasus yang parah, asfiksia neonatorum dapat menyebabkan kerusakan permanen pada otak dan organ atau bahkan dapat menyebabkan kematian. Tingkat asfiksia neonatorum lebih rendah di negara-negara maju, dengan angka sekitar 2 dari 1000 kelahiran. Di daerah-daerah negara maju di mana akses perawatan neonatal sangat terbatas dan kurang, angka tersebut dapat meningkat 10 kali lipat. 

Berbagai faktor dapat menyebabkan asfiksia neonatorum. Faktor tersebut dapat berhubungan dengan ibu hamil atau janin yang sedang tumbuh dan berkembang di dalam rahim. Adapun beberapa faktor risiko tersebut adalah:

  • Prolaps tali pusar. Komplikasi persalinan ini terjadi ketika tali pusar meninggalkan serviks sebelum bayi. 
  • Tekanan pada tali pusar
  • Sindrom aspirasi mekonium. Sindrom ini terjadi ketika bayi menghirup campuran air ketuban dengan mekonium, tinja pertamanya. 
  • Lahir prematur. Jika seorang bayi lahir sebelum minggu ke 37, paru-paru mereka belum berkembang sepenuhnya, dan mereka dapat tidak mampu bernapas dengan benar. 
  • Emboli cairan ketuban. Meskipun jarang ditemui, komplikasi ini, di mana cairan ketuban masuk ke aliran darah ibu hamil dan menyebabkan reaksi alergi, merupakan jenis komplikasi yang sangat serius. 
  • Rahim pecah. Penelitian telah menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara pecahnya dinding otot rahi dengan asfiksia neonatorum. 
  • Plasenta terlepas dari rahim. Pemisahan ini dapat terjadi sebelum proses persalinan. 
  • Infeksi pada saat persalinan berlangsung
  • Persalinan yang sulit dan memakan waktu sangat lama
  • Tekanan darah rendah atau tinggi pada saat hamil
  • Anemia. Pada bayi yang menderita anemia, sel darah tidak membawa cukup oksigen.
  • Tidak mendapatkan cukup oksigen pada darah ibu hamil. Jumlah oksigen mungkin dalam kadar yang kurang sebelum atau pada saat proses persalinan berlangsung. 

Asfiksia neonatorum juga memiliki faktor risikonya sendiri, seperti Ibu hamil berusia antara 20 hingga 25 tahun, kelahiran jamak (misalnya melahirkan bayi kembar 2 atau tiga), tidak mengunjungi perawatan prenatal, berat badan bayi baru lahir yang rendah, posisi janin yang tidak normal pada saat persalinan berlangsung, preeclampsia atau eklampsia, serta riwayat asfiksia neonatorum pada persalinan sebelumnya. 

Bayi dengan asfiksia neonatorum ringan-hingga-sedang yang mendapatkan perawatan segera dapat pulih dengan sepenuhnya. Akan tetapi, dalam beberapa kasus, asfiksia neonatorum dapat bersifat mematikan. Pada bayi dengan asfiksia neonatorum, tingkat kematian adalah 30 persen atau lebih dalam beberapa hari pertama setelah persalinan. Asfiksia neonatorum juga dapat menyebabkan komplikasi jangka panjang dan dapat menyebabkan gangguan saraf ringan hingga parah, seperti kejang, cerebral palsy, atau penundaan perkembangan.

Langkah Mudah Atasi Ispa pada Anak

ispa pada anak

Saluran pernapasan menjadi sasaran empuk bagi bakteri atau virus mengacaukan kondisi manusia. Pasalnya, saluran pernapasan mudah sekali terpapar dengan berbagai potensi penyebab penyakit. Jika sudah terserang dan mengalami masalah kesehatan, kondisi ini disebut ispa. Jika dialami oleh anak-anak, maka bisa disebut “ispa pada anak.”

Ispa adalah akronim dari Infeksi Saluran Pernapasan Akut. Kondisi ini memiliki tingkatan keparahan, mulai dari yang paling sederhana, seperti pilek; batuk; dan bersin-bersin, hingga ke kondisi kesehatan lain yang sifatnya lebih mengkhawatirkan, misalnya pneumonia.

Umumnya, ispa diobati dengan memanfaatkan obat-obatan yang dapat mematikan virus atau bakteri penyebab infeksi. Kendati demikian, seseorang tetap punya pilihan alternatif untuk mengatasi kondisi ini, apalagi ispa pada anak, yang notabene anak-anak tidak bisa sembarangan minum obat. 

Jika kamu tertarik, berikut ini akan dipaparkan upaya atau cara tradisional yang dimaksud di atas, antara lain:

  • Biarkan terpapar sinar matahari

Sinar matahari adalah sumber utama asupan vitamin D bagi tubuh. Kekurangan vitamin D kadang berisiko mengakibatkan tubuh mengalami infeksi, salah satunya ispa. Untuk memenuhi kebutuhan vitamin D, eksposur pada sinar matahari sebaiknya jangan lebih dari pukul 9 pagi.

  • Kumur air garam

Cara ini efektif melegakan hidung dan tenggorokan sehingga baik untuk saluran pernapasan. Untuk berkumur hanya perlu segelas air hangat dan satu sendok teh garam. Kemudian, garam dilarutkan dalam air sebelum digunakan untuk berkumur. Lakukan setiap pagi untuk napas yang terasa lebih lega, sebelum ke dokter jika ispa tak kunjung membaik.

  • Memanfaatkan uap atau inhaler

Inhaling steam adalah salah satu obat alami terbaik untuk mengatasi ispa. Inhaling steam bisa dibuat sendiri dengan mendidihkan satu liter air yang ditambah kayu kamper. Uapnya bisa dihirup 10-15 menit untuk melegakan saluran pernapasan. Namun obat ini tidak disarankan untul anak, ibu hamil, dan pasien hipertensi.

  • Mengonsumsi madu

Bagi anak atau siapa saja yang tidak suka inhaling steam, madu bisa jadi alternatif untuk meringankan ispa. Madu mengandung antibakteri dan berbagai nutrisi untuk memperkuat daya tahan tubuh. Madu bisa dikonsumsi langsung atau dicampur dalam segelas susu. Cara lainnya adalah dengan dicampur dalam air hangat dan perasan jeruk lemon.

  • Mengonsumsi jahe

Penggunaan jahe sebagai salah satu obat alami tak lagi diragukan dalam dunia medis. Untuk ispa, jahe adalah salah satu obat yang dianggap paling efektif. Jahe dengan manfaat antivirus, antimikroba, dan anti radang mampu mengatasi penyebab utama infeksi saluran pernapasan. Jahe bisa dikonsumsi langsung atau direbus dalam air mendidih.

  • Memanfaatkan eucalyptus

Daun eucalptus atau minyaknya bisa membantu melegakan saluran pernapasan. Untuk memanfaatkan eucalyptus, daun atau minyaknya ditambahkan dalam air mendidih. Uap yang keluar bisa dihirup untuk membantu mengatasi rasa tidak nyaman di pernapasan. 

  • Mengonsumsi bawang putih

Siapa tak tahu bumbu dapur satu ini. Ya, bawang putih telah lama digunakan sebagai bahan obat untuk mengatasi berbagai penyakit. Kandungan profilatik dalam bawang putih mampu mencegah flu dan masuk angin yang merupakan beberapa gejala ispa pada anak. 

Untuk memanfaatkan bawang putih untuk menyelamatkan si kecil dari ispa, bawang putih bisa dimakan secara mentah. Konon katanya bawang putih lebih bermanfaat jika dikonsumsi mentah, namun riset membuktikan konsumsi dalam bentuk matang juga tidak menurunkan manfaatnya.

Kiranya cara-cara sederhana dan tradisional di atas bisa kamu coba untuk mengatasi ispa pada anak. Tak ada salahnya mencoba satu atau beberapa cara di atas. Siapa tahu cara-cara tersebut ampuh sehingga kamu bisa menunda mengunjungi dokter. 

Namun, perlu digarisbawahi juga jika kamu tak mau ambil risiko mengenai kondisi kesehatan si kecil, sebaiknya tetap datangi fasilitas kesehatan agar mendapat informasi yang jelas dan pasti mengenai ispa pada anak.

Manfaat Probiotik Bagi Bayi yang Perlu Diketahui Orang tua

manfaat probiotik

Bakteri pada dalam tubuh biasanya dikenal dengan bakteri yang jahat. Namun, tidak semua bakteri itu bersifat jahat. Di dalam tubuh juga hidup bakteri baik yang disebut dengan probiotik. Disebut baik karena salah satu manfaat probiotik bagi tubuh adalah untuk melancarkan metabolisme saat menyerap makanan.

Probiotik tidak hanya bermanfaat bagi orang dewasa, tetapi juga bayi. Probiotik juga dapat Anda temui pada kandungan susu formula bayi. Beberapa jenis probiotik yang baik bagi bayi adalah lactobacillus, bifidobacterium, saccharomyces boulardii. Perlu diperhatikan bahwa susu formula atau suplemen probiotik dapat diberikan pada bayi yang berusia 3 bulan ke atas.

Manfaat Probiotik yang Diberikan pada Bayi

Probiotik dikenal dengan kebaikannya bagi tubuh. Manfaat yang diberikan dari bakteri baik ini antara lain:

  1. Menjaga kesehatan jantung

Probiotik memiliki kemampuan untuk menurunkan kolesterol buruk dan tekanan darah. Asam laktat yang dihasilkan oleh bakteri baik mampu mengurangi kolesterol dengan cara memecah empedu di dalam usus. Dengan begitu, probiotik juga menjaga kesehatan jantung.

  1. Mengurangi gejala alergi dan eksim tertentu

Saat bayi mengalami alergi atau eksim, probiotik dapat membantu menyembuhkan dan menghilangkan gejala atau peradangan. Namun, pastikan Anda telah berkonsultasi terlebih dahulu kepada dokter untuk penanganan alergi atau eksim yang tepat.

  1. Meningkatkan daya tahan tubuh

Sistem kekebalan tubuh adalah salah satu hal yang penting untuk menjaga kesehatan. Probiotik memiliki peran pada bagian ini karena probiotik mampu meningkatkan fungsi dari sel imun dan sel lapisan pelindung usus.

Dengan daya tahan tubuh yang baik, bayi juga dapat jauh dari penyakit yang berkaitan dengan respon imunitas.

  1. Baik untuk saluran pencernaan

Manfaat probiotik yang paling terkenal adalah mampu menyehatkan saluran pencernaan. Probiotik memiliki fungsi untuk menyeimbangkan jumlah bakteri pada saluran pencernaan sehingga bisa mengatasi dan mencegah permasalahan pada usus.

Probiotik juga menghambat tumbuhnya bakteri jahat yang menyerang sistem pencernaan sehingga bayi tidak mudah terkena permasalah pencernaan seperti diare atau infeksi pada pencernaan lainnya. 

  1. Mengurangi lemak perut dan menjaga berat badan bayi

Probiotik dapat memberikan rasa kenyang yang tahan lama, membakar kalori lebih banyak, dan menyimpan sedikit lemak. Bahkan, beberapa probiotik juga mampu mencegah penyerapan lemak pada usus. Probiotik dapat membantu menjaga berat badan ideal bagi anak-anak atau bayi agar tidak mengalami berat badan yang berlebih.

  1. Meningkatkan mood 

Otak dan mikrobiota di dalam usus memiliki kemampuan untuk saling berkomunikasi. Selain itu, probiotik pada saluran pencernaan juga mempunyai kemampuan untuk meningkatkan serotonin. Fungsi dari serotonin adalah memberikan rasa senang, mengatur nafsu makan, dan mengatur tidur.

Bayi dapat kehilangan mood untuk makan ketika merasakan hal yang tidak menyenangkan. Hal ini adalah respon dari otak dan pencernaan karena merasakan hal yang tidak menyenangkan tersebut. Hal sebaliknya juga dapat terjadi, jika sistem pencernaan bayi dalam kondisi yang baik maka mood bayi juga akan naik.

  1. Sumber probiotik untuk bayi

Bagi bayi, sumber utama probiotiknya berasal dari ASI. Namun, tidak semua bayi bisa menerima ASI dan membutuhkan sumber makanan lainnya. Salah satu produk pengganti ASI yang memiliki probiotik adalah susu formula. Untuk menjadikan susu formula sebagai sumber probiotik, Anda perlu memperhatikan cara pembuatan susu yang benar sehingga tidak menghilangkan sumber probiotiknya. Hal ini dikarenakan jika susu diseduh dengan air yang benar-benar panas mampu mematikan probiotik yang dibutuhkan. 

Pada bayi yang sudah MPASI, beberapa sumber probiotik juga bisa didapatkan pada:

  • Tempe
  • Yogurt
  • Acar timun
  • Keju mozarella, cheddar, dan cottage

Probiotik memang memiliki banyak manfaat bagi bayi. Namun, Anda dapat memberikannya pada bayi yang berusia 3 bulan ke atas untuk menghindari efek yang tidak diinginkan. Pastikan juga probiotik yang diberikan adalah dalam bentuk suplemen. Diskusikan pada dokter anak untuk memaksimalkan manfaat probiotik bagi bayi.