Tagged: ibu menyusui

Obat Migrain Apakah yang Aman untuk Ibu Menyusui?

Obat Migrain Apakah yang Aman untuk Ibu Menyusui?

Migrain biasanya terjadi pada ibu menyusui, selama tahap awal pasca kehamilan. Perubahan hormon dalam tubuh Anda dapat menyebabkan stres yang tidak semestinya, dan Anda mungkin akan menderita migrain excedrin saat menyusui. Lalu obat migrain apa yang aman dikonsumsi ibu menyusui?

Sakit kepala terjadi selama periode pasca persalinan pada 30% hingga 40% dari semua wanita, tidak hanya pada mereka yang pernah mengalami migrain di masa lalu, dan biasanya terjadi selama minggu pertama setelah melahirkan. Selama enam minggu pertama post partum, sakit kepala cenderung lebih menyakitkan dan berlangsung lebih lama, meskipun mungkin mulai membaik setelahnya. Hal ini diperkirakan karena fluktuasi hormon setelah melahirkan.

Anda tidak perlu khawatir, karena ada lebih banyak pilihan pengobatan dan obat untuk mengobati migrain saat Anda menjadi ibu menyusui daripada saat Anda hamil. Obat dianggap aman jika bayi Anda mendapat kurang dari 10 persen dosis melalui ASI Anda.

Ibu menyusui yang menderita migrain, merasakan sensasi berdenyut dan berdenyut di sekitar kepala. Sakit kepala yang berkepanjangan bahkan bisa bertahan selama 2-3 hari, dan Anda mungkin menderita ketidaknyamanan tingkat tinggi. Biasanya, gejala utama migrain adalah sakit kepala yang berdenyut-denyut. Beberapa gejala lain yang menunjukkan timbulnya migrain meliputi:

  • Nyeri di satu sisi atau kedua sisi kepala Anda
  • Sifat lekas marah
  • Leher kaku
  • Penglihatan kabur
  • Mual dan muntah 

Dokter Anda mungkin meresepkan beberapa obat migrain yang aman untuk ibu menyusui. Beberapa dari obat-obatan ini meliputi:

  • Asetaminofen (parasetamol)

Asetaminofen atau parasetamol dianggap sebagai obat migrain untuk ibu menyusui yang aman. Tidak hanya ibu menyusui, biasanya obat ini juga dikonsumsi oleh ibu hamil yang menderita sakit kepala.

  • Ibuprofen

Obat-obatan anti radang non steroid (NSAID), seperti naproxen dan indomethacin, boleh dikonsumsi oleh ibu menyusui yang mengalami migrain. Namun, ibuprofen lebih dianjurkan karena keamanannya sudah diteliti oleh sejumlah riset.

  • Penghambat beta (beta blockers)

Obat-obatan penghambat beta, seperti propanolol dan metoprolol, dianggap sebagai obat pencegah migrain yang paling direkomendasikan untuk ibu menyusui karena hanya sedikit kandungan keduanya yang terserap ke dalam ASI.

  • Kortikosteroid

Kortikosteroid oral, seperti prednisone dan prednisolone, dianggap relatif aman untuk dikonsumsi oleh ibu menyusui. Sebab, hanya sekitar 1-2 persen saja yang terserap ke dalam ASI.

Sebelum mencoba berbagai obat migrain di atas, pastikan Anda berkonsultasi dulu pada dokter untuk mengetahui dosis dan aturan pemakaian yang tepat untuk ibu menyusui.

Sebenarnya obat migrain terbaik untuk ibu menyusui adalah dengan tidak menggunakan obat sama sekali dan untuk menghindari pemicu migrain Anda. Tidur yang cukup, menghindari stres yang tidak perlu, mengelola masalah kesehatan mental, dan makan makanan seimbang semuanya membantu. Namun, mungkin obat akan bekerja secara lebih efektif untuk mengobati migrain Anda. Bicarakan dengan tim dokter Anda pada trimester ketiga tentang rencana Anda untuk mengelola migrain saat Anda menyusui.

Kondisi Payudara Bisa Jadi Masalah Ibu Menyusui

Kondisi Payudara Bisa Jadi Masalah Ibu Menyusui

Menyusui adalah sebuah aktivitas yang penting bagi kehidupan seorang manusia. Di mana ASI merupakan nutrisi atau asupan terbaik bagi bayi baru lahir. Namun, dalam praktiknya, banyak sekali masalah ibu menyusui yang ditemui di lapangan, di mana sebagian besar terjadi karena kondisi payudara ibu itu sendiri.

Di bawah ini ada beberapa masalah ibu menyusui yang disebabkan atau timbul karena kondisi payudara tersebut. Langsung aja, berikut di antaranya:

  • Kondisi puting tenggelam

Payudara pada wanita sama seperti organ tubuh lain, yakni memiliki bentuk yang berbeda-beda. Selain di ukuran, perbedaan payudara biasanya terletak pada bentuk atau ukuran puting. Kadang, yang menjadi masalah ibu menyusui adalah bentuk puting yang mendatar atau tenggelam. 

Walau bukan termasuk masalah yang berarti, tetapi bentuk puting ini bisa menghambat proses menyusui. Ini berkaitan erat dengan proses pelekatan atau kondisi di mana bayi mencucup susu dari payudara ibunya.

Masalah ini dapat diatasi dengan mudah melalui dua cara yang populer, seperti penarikan puting secara manual (menggunakan tangan); atau menggunakan spuit ukuran 10—20 ml, bergantung pada besar puting. 

Spuit dengan mudah dapat dipahami sebagai “suntikan”. Alat ini banyak dijual di apotek atau toko kesehatan lain. Anda bisa menarik puting agar mengacung dengan memanfaatkan gaya yang dihasilkan isapan dari spuit tersebut. Anda dapat melakukan penarikan sehari tiga kali pagi, siang,  dan malam, masing-masing 10 kali hingga kondisi puting Anda cukup ideal.

  • Puting lecet

Meski tidak berpengaruh langsung dalam proses menyusui, tetapi masalah ibu menyusui ini bisa memberi efek atau sensasi sakit kepada ibu. Lagi pula, puting yang lecet bisa membuat anak tidak nyaman saat menyusui. Masalah ibu menyusui ini bisa terjadi karena posisi dan pelekatan yang tidak baik atau juga dapat diakibatkan iritasi kulit yang sensitif dengan lidah bayi atau akibat jamur.

  • Kebiasaan buruk menangani payudara sehingga saluran ASI tersumbat

Masalah ibu menyusui selanjutnya yang berkaitan dengan kondisi payudara adalah adanya benjolan sehingga menyebabkan saluran ASI tersumbat. Penyumbatan ini bisa terjadi karena proses pengentalan ASI karena jarang dikeluarkan.

Namun, pada umumnya masalah ini timbul akibat kebiasaan buruk menangani payudara, seperti menopang payudara dengan posisi menggunting dan juga penggunaan bra yang terlalu menekan payudara.

  • Payudara bengkak

Payudara membengkak biasanya disertai dengan kondisi sensasi sakit di area payudara, puting terasa kencang, kulit mengilat walau tidak merah, terlihat pembuluh darah vena di permukaan payudara, hingga tidak keluarnya ASI. Hal ini disebabkan pengosongan payudara tidak berlangsung optimal, sering kali akibat bayi jarang menyusu dan produksi ASI melimpah. Bisa juga karena posisi dan pelekatan yang kurang tepat sehingga pengosongan payudara kurang optimal atau pembatasan pengosongan payudara.

Ibu bisa mengatasi masalah ini dengan melakukan kompres hangat pada payudara, kemudian pijat spiral secara lembut di area sekitar sumbatan menuju puting. Selain itu, ibu mungkin butuh obat penghilang nyeri (analgesik) yang diresepkan dokter.

  • Mastitis

Masalah ibu menyusui ini adalah kondisi di mana terjadinya peradangan pada payudara. Kondisi ini dapat ditandai dengan terdapatnya benjolan di payudara hingga menyebabkan kulit luarnya menjadi merah. Selain itu, mastitis juga menyebabkan ibu merasakan nyeri hebat dan panas ditambah ibu mengalami demam.

Ada dua jenis mastitis, yaitu non-infective mastitis dan infective mastitis (abses payudara). Yang kedua ini telah terinfeksi bakteri terutama Staphylococcus virulent. Umumnya didahului puting lecet, saluran air susu tersumbat, atau pembengkakan payudara (engorgement).

Sama seperti masalah payudara bengkak, upaya pertama yang bisa dilakukan oleh ibu yang menderita mastitis adalah mengompres payudaranya dengan air hangat dan melakukan pemijatan secara lembut di area sekitar sumbatan. Untuk mengurangi rasa sakit, ibu bisa diberi pengobatan dengan tablet analgetik. Sementara untuk mengatasi infeksi diberi pengobatan dengan antibiotik dan vitamin C dosis tinggi.

***

Kira-kira itulah beberapa masalah ibu menyusui yang terjadi akibat kondisi payudara. Menjadi penting bagi Anda, para perempuan, untuk menjaga kondisi dan kesehatan payudara, walaupun saat ini Anda tidak mengandung atau menyusui. Hal ini baik untuk dilakukan sebagai upaya persiapan sebelum nantinya terjadi masalah di waktu yang tidak tepat.