Waspadai Sindrom Polikistik Ovarium yang Hantui Wanita dengan Siklus Menstruasi yang Tidak Teratur

Apakah Anda pernah mendengar tentang sindrom polikistik ovarium? Sindrom ini dapat ditandai dengan gejala, seperti siklus menstruasi yang tidak teratur dan jumlah bulu yang lebat pada tubuh pada wanita.

Mengapa hal tersebut dapat terjadi? Dan apa saja dampak sindrom polikistik ovarium bagi kesehatan wanita?

Wanita sehat idealnya mempunyai sepasang ovarium yang memiliki fungsi untuk menjaga kesehatan sistem reproduksi. Setiap ovarium ini terletak di kedua sisi rahim. Ovarium juga ternyata memiliki fungsi lain, yakni sebagai organ endokrin yang menghasilkan hormon estrogen dan progesteron.

Kedua hormon tersebut, estrogen dan progesteron berfungsi untuk menjaga kesuburan wanita. Di samping itu, hormon tersebut juga berfungsi untuk menjaga perkembangan karakteristik organ seksual wanita, seperti payudara.

Jika sel telur yang matang tidak dibuahi oleh sperma dalam waktu 12-24 jam setelah dilepas oleh ovarium, maka akan terjadi menstruasi.

Tentang sindrom polikistik ovarium dan dampaknya terhadap kesehatan wanita

Pada pasien sindrom polikistik ovarium, akan terbentuk banyak gelembung kecil cairan (folikel) pada ovarium. Gelembung-gelembung ini menyebabkan ovarium pada pasien sindrom polikistik ovarium gagal untuk melepaskan sel telur pada setiap siklus menstruasi.

Selain terganggunya siklus menstruasi, fungsi ovarium lainnya pun ikut terdampak, antara lain jumlah hormon jantan (androgen) yang tinggi. Tingginya hormon jantan pada wanita ini akan berakibat pada tumbuhnya bulu pada sebagian besar anggota tubuh, termasuk bulu wajah.

Wanita dengan sindrom polikistik ovarium akan mendapati jerawat yang cenderung sulit diatasi. Selain itu, ia juga akan mengalami kebotakan seperti yang terjadi pada pria.

Dampak jangka kesehatan yang memengaruhi kesehatan wanita akibat sindrom ini, antara lain mengalami kesulitan untuk hamil, tingginya peluang keguguran, risiko diabetes pada kehamilan, perdarahan yang terjadi secara terus menerus, hingga risiko kanker rahim.

Tidak hanya itu, sindrom polikistik ovarium juga berdampak pada kesehatan mental wanita, seperti risiko depresi, kecemasan, serta gangguan makan.

Jika Anda mengalami gejala seperti telat menstruasi, adanya pertumbuhan rambut di wajah dan bagian tubuh lain, sulit hamil walau sudah lebih dari satu tahun menikah, dan memiliki gejala diabetes, maka segera konsultasikan kondisi Anda dengan dokter.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *